Home » Menulis

Category Archives: Menulis

Apa Sulitnya Menulis Skripsi?

Mengapa menulis tugas akhir (skripsi, tesis, atau disertasi) merupakan momok sebagian besar mahasiswa? Jawabnya satu saja: tidak terbiasa mengarang! Bagi mahasiswa yang terbiasa mengarang, menulis tugas akhir itu perkara mudah. Bagi mahasiswa yang tidak terbiasa mengarang, membuat tugas akhir seperti mau jungkir balik. Pada akhirnya, malahan, banyak yang mengambil jalan pintas: membeli atau memesan skripsi dari biro jasa penulisan skripsi.

Tentu kasus seperti itu tidak Anda inginkan. Di samping curang, berskripsi ria melalui biro jasa itu sangat tercela. Apabila Anda lakukan berarti Anda menipu diri sendiri: menyandang titel sarjana dengan kepalsuan. Oleh sebab itu, daripada menipu diri sendiri lebih baik berlatih kiat-kiat mengarang.

Pengarang adalah pembaca, pengarang yang baik adalah pembaca yang baik pula.. Hasil membaca akan memberikan perspektif dan latar belakang informasi yang kuat terhadap karangan Anda. Jadi, lanjutkanlah kebiasaan mengarang Anda dengan banyak membaca. Karangan Anda baru berguna bagi banyak orang apabila Anda juga dapat mengelaborasinya dengan bidang-bidang lain selain bidang utama Anda.

Setiap kita sudah diberi modal berkomunikasi berupa kemampuan mendengar, berbicara, membaca, dan mengarang. Keempat kemampuan itu muncul dan dikuasai oleh seseorang secara bertahap, tetapi sesuatu yang pasti, mengarang merupakan puncak kemampuan berkomunikasi. Keempat modal itu tinggal kita kembangkan. Modal untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan itu juga sudah kita punyai, yaitu perkuliaan, perpustakaan, dan fasilitas-fasilitas yang memadai di kampus. Sulit untuk bisa diterima ungkapan-ungkapan: tidak cukup waktu, tidak ada komputer, dan sibuk membuat tugas lain sebagai alasan untuk tidak mengarang.

Apabila Anda mau mengamati realita, pencapaian prestasi yang paling tinggi bagi seorang profesional adalah membagi semua ilmu yang dimilikinya kepada orang lain. Itulah sebabnya mengapa setiap profesioanal hebat di dunia, pada akhirnya, menulis buku atau menjadi pembicara pada seminar dan pertemuan-pertemuan penting. Hampir dapat dipastikan bahwa karir setiap profesional akan bermuara pada aktivitas berbicara dan mengarang, menjadi pembicara atau pengarang. Mengarang adalah alat survival. Anda patut percaya, muara manapun yang Anda pilih (pembicara atau pengarang), kemampuan mengarang adalah tulang punggungnya. Masalahnya, sejauh mana kemampuan mengarang Anda sekarang? Apa yang sudah Anda persiapkan mulai sekarang?

***

Persoalan pertama menulis tugas akhir, biasanya. adalah menemukan masalah yang akan diteliti. Hal ini tidak bisa hanya dengan merenung, bersemedi di tempat sunyi, atau ditanya dan diminta kepada orang lain. Masalah hanya dapat dilihat/ditemukan dengan (kerangka) teori. Apabila penguasaan teori Anda baik maka masalah dalam bidang ilmu Anda juga akan terlihat banyak. Jadi, nasehat kedua, setelah membiasakan diri mengarang, adalah menguasai teori. Lagi-lagi, banyak membaca merupakan langkah ke arah penguasaan teori.

Setelah masalah ditemukan, jurusan/pembimbing mewajibkan Anda menulis proposal. Kesulitan muncul lagi: bagaimana menulis proposal; bagaimana menulis pendahuluan. Bahkan, bagaimana memulai paragraf pertama, kalimat pertama? Tidak jarang, mahasiswa terlambat atau gagal sama sekali karena proposal (penelitian) untuk tugas akhir itu tidak kunjung selesai.

Untuk apa proposal ditulis? Mengapa tidak langsung saja melakukan penelitian? Di samping dipersyaratkan oleh setiap jurusan, proposal penelitian berguna untuk memastikan (bersama pembimbing Anda) apakah topik yang Anda pilih cukup baru dan jelas, apakah signifikansi penelitian ini cukup penting, apakah teori yang Anda gunakan cukup kuat, dan apakah metode yang Anda rencanakan cukup jelas. Apabila proposal yang Anda tulis memperlihatkan bahwa ada hubungn yang linear antarbagian (Bab) maka diperkirakan penelitian yang akan Anda lakukan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangn ilmu pengetahuan di bidang Anda.

Pada umumnya, proposal penelitian untuk skripsi, tesis, dan disertasi berisi prinsip-prinsip dasar bagaimana sebuah penelitian akan dilakukan. Sebuah rencana penelitian yang baik harus dapat menjawab pertanyaan: (1) Apa yang ingin Anda teliti? (2) Mengapa hal itu penting? (3) Apa yang telah dilakukan dalam bidang itu? (4) Bagaimana Anda akan melakukan penelitian itu?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dapat dituangkan dalam sebuah proposal yang terdiri atas tiga bagian: (1) pendahuluan, (2) kajian teori, dan (3) metodologi. Pendahuluan merupakan bagian yang mengantarkan permasalahan yang akan diteliti; kajian teori merupakan pembahasan (tinjauan) teoretis terhadap masalah yang akan diteliti; metodologi merupakan penjelasan bagaimana penelitian akan dilakukan.

Secara lebih spesifik, biasanya, pendahuluan terdiri atas tiga bagian: (1) pengajuan masalah, (2) penetapan tujuan umum, dan (3) perkiraan manfaat penelitian. Pengajuan masalah, biasanya, terdiri atas lima bagian: (1) latar belakang masalah, (2) pentingnya masalah, (3) identifikasi masalah, (4) fokus masalah, dan (5) perumusan masalah.

Kelemahan tugas akhir, pada umumnya, adalah pada pengajuan masalah. Meskipun bacaan Anda sudah banyak, kiat-kiat memperlihatkan sesuatu sebagai masalah penelitian juga perlu Anda pelajari. Mahasiswa yang baru belajar meneliti, biasanya memulai pengungkapan latar belakang dengan mendefinisikan objek kajiannya. Kemudian, ia mengemukakan fungsi dan kategori objek itu. Pada celah-celah kategori itulah ia menyatakan apa yang akan diteliti dan menganggap apa yang akan diteliti itu sebagai masalah penelitian.

Misalnya, seorang mahasiswa akan meneliti dampak iklan televisi terhadap perilaku konsumtif masyarakat. Secara berturut-turut: Paragraf 1: Iklan adalah…. Paragraf 2: Iklan berfungsi…. Paragraf 3: Iklan terbagi atas…. Paragraf 4: Penelitian ini akan diaarahkan pada…. (ia pilih salah satu jenis iklan). Paragraf 5: Rumusan masalah penelitian ini adalah…. (membuat kalimat tanya dari salah satu jenis iklan).

Pengajuan masalah seperti itu menunjukkan bahwa calon peneliti, sebenarnya, belum melihat masalah pada objek kajiannya. Ia menganggap bahwa apabila sudah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan maka masalah telah dirumuskan. Bahkan pertanyaan itu pun banyak yang keliru, seperti “Apa yang dimaksud dengan dampak iklan televisi terhadap perilaku konsumtif masyarakat? Pertanyaan itu tidak perlu dijawab dengan penelitian karena sudah tersedia jawabannya di dalam buku teks. Rumusan masalah atau pertanyaan penelitian, sekurang-kurangnya diawali dengan kata tanya bagaimana kalau tidak akan  mengapa.

Pada umumnya, orang tahu apa yang dimaksud dengan latar belakang, namun untuk penelitian, apa sebaiknya yang dicantumkan? Apabila Anda mau bersusah-susah sedikit, sebaiknya kemukakan fakta tentang masalah yang kontroversi di tengah-tengah masyarakat (sekurang-kurangnya masyarakat keilmuan Anda) sehubungan dengan objek kajian atau substansi penelitian Anda. Apa masalah yang sedang menjadi perhatian banyak orang saat Anda menulis proposal? Setelah Anda nyatakan fakta masalaah itu (tentunya lengkap dengan settingnya: di mana, kapan, siapa yang terlibat, apa yang dirasakan) maka Anda kemukakan pula apa pendapat masyarakat terhadap fakta itu. Cuma perlu diingat bahwa pengungkapan fakta dan tanggapan masyarakat itu disertai dengan sumbernya secara konkrit (koran, majalah, radio, televisi, obervasi langsung, dan sebagainya). Apabila tidak disertai sumber, Anda akan dicap sebagai penghayal atau sekadar mengemukakan realita, bukan fakta.

Oleh karena pada bagian pendahuluan perlu dicantumkan tujuan maka kemukakan tujuan umum saja. Toh, Anda belum tahu tujuan spesifiknya sebelum membahasnya secara teoritis (kajian teori) dan penelitian yang relevan. Oleh karena bersifat umum maka tujuan penelitian cukup dituliskan satu saja, sesuai dengan substansi penelitian. Biasanya, tujuan yang satu ini dapat dirumuskan dari judul penelitian yang sudah ditetapkan. Misalnya, judul proposal Anda “Dampak Iklan Televisi terhadap Perilaku Konsumtif Masyarakat” maka tujuan dapat Anda ungkapkan menjadi: “Mendapatkan suatu pemahaman dan penjelasan yang lengkap dan mendalam tentang dampak iklan televisi terhadap perilaku konsumtif masyarakat.”

Apabila Anda menuliskan tujuan secara spesifik (lebih dari satu), sebenarnya, diragukan dari mana tujuan itu diformat. Biasanya ini terjadi karena penulis telah menggunakan teori pada latar belakang sehingga teori itu berdempet-dempet dengan bab 2 (kajian teori). Sebaiknya tujuan spesifik ditarok pada bagian pertama metodologi. Dengan demikian ada logikanya bahwa tujuan-tujuan spesifik itu berasal dari kajian teori.

Banyak peneliti yang menyatakan tujuan dengan menggunakan sebuah kata kerja tanpa diikuti kata benda yang bermakna hasil. Kata kerja yang biasa digunakan adalah: mendeskripsikan, menjelaskan, mengungkapkan, memahami, dan sebagainya. Kata-kata kerja seperti itu belum cukup untuk menyatakan tujuan karena baru menyatakan proses, padahal tujuan berbeda dengn proses untuk mencapai tujuan, bukan? Tujuan harus diungkapkan dengan kata benda (nomina) atau sesuatu yang dianggap benda. Setidaknya tujuan mengandung kata-kata seperti: penjelasan, pendeskripsian, pemahaman, dan sebagainya. Jika cuma mendeskripsikan maka yang terjadi baru proses mencapai tujuan, sedangkan tujuan itu sendiri adalah hasil deskripsi, yaitu pendeskripsian.

Manfaat pada bagian pendahuluan juga hanya perkiraan karena apa hasil penelitian juga belum dapat diramalkan sepenuhnya. Oleh sebab itu, manfaat jangan muluk-muluk, jangan terlalu banyak. Anda harus mengungkapkan manfaat seadanya, supaya tidak melebihi takaran apa yang mungkin Anda capai. Pada bagian implikasi atau rekomendasi penelitian, Anda dapat lebih jelas mengungkapkan manfaat berdasarkan tujuan-tujuan yang memang telah tercapai.

***

Lantas, bagaimana hubungan dengan pembimbing/promotor? Hubungan ini sangat penting dijaga. Jangan pernah terjadi pembimbing merasa kesal dengan perilaku Anda. Apabila ingin berkonsultasi, buatlah perjanjian; jangan nyelonong dan nyerocos begitu saja, kapan saja, dan di mana saja. Sekali pembimbing/promotor Anda tersinggung, masalah berikut akan bertarat-tarat. Pihak yang dirugikan hanya Anda. Kalau tidak akan terlambat, ya gagal.

Ketika berkonsultasi, peganglah pena dan kertas. Catat semua saran pembimbing Anda. Melihat Anda mencatat itu, pembimbing merasa kata-katanya dihargai. Terlepas dari kata-kata pembimbing itu akan Anda gunakan untuk merevisi, atau Anda sekadar pura-pura mencatat, keseriusan Anda mencatat itu menunjukkan perhatian terhadap pembimbing. Banyak mahasiswa yang terlihat sekadar mendengarkan ceramah ketika pembimbingnya memberi saran. Ketika balik lagi berkonsultasi, hal yang sama ditanyakan lagi karena dulu lupa mencatat.

Ketika berkonsultasi, sebaiknya Anda dan pembimbing masing-masing memegang satu copy draf yang telah Anda tulis. Jangan hanya ada di tangan pembimbing, sementara Anda santai atau satu copy bolak-balik dari tangan pembimbing ke tangan Anda. Itu membuat konsultasi kurang efektif.

Jadi, Apabila Anda banyak membaca, pandai mengarang, memahami seluk-beluk proposal, dan hubungan dengan pembimbing juga baik, apa sih sulitnya menulis skripsi?

Tips Menghadapi Ujian Tugas Akhir:

  1. Ujian tugas akhir (ujian tertutup untuk disertasi) tidak sekadar menguji kemampuan akademik tetapi juga sikap akademik. Kadang-kadang penguji sedang melihat sikap Anda dengan pertanyaan “aneh”. Oleh sebab itu, jawab saja berdasarkan apa yang Anda tulis. Jangan sekali-kali memancing perdebatan! Anda tidak akan pernah menang dalam ruang ujian.
  2. Jangan ada pertanyaan yang tidak dijawab. Oleh sebab itu, dengarkan komentar dan pertanyaan penguji dengan baik. Kadang-kadang pertanyaan muncul begitu saja saat memberi komentar. Pegang pena dan kertas, catat kata-kata kunci pertanyaan itu. Dengan demikian, Anda dapat menjawab secara komprehensif.
  3. Jangan menguasai forum! Tempatkan diri Anda sebagai orang yang sedang belajar. Mengangguk atau katakan “Ya” terhadap semua saran. Tidak ada ruginya mengatakan “Ya”, meskipun, dalam hati, Anda merasa saran itu kurang/tidak relevan.
  4. Bagaimanapun setiap penguji ingin terlihat “gagah”; ingin agar kata-katanya didengar. Oleh sebab itu, jangan Anda berupaya untuk “lebih gagah” daripada penguji. Mendengarkan dengan baik, dengan wajah penuh harap akan bantuan merupakan sikap yang dapat membuat penguji merasa Anda mempercayainya. Ingat! Anda sedang dinilai!
  5. Selalulah merasa bahwa semua penguji sedang membantu Anda, maka Anda tidak perlu takut. Diakui, setiap mahasiswa yang duduk di kursi teruji akan merasa gugup, takut, gemetar, merasa akan salah, dan perasaan-perasaan “aneh” lainnya. Akan tetapi, apabila Anda bisa tenang mendengar, perasaa itu hanya akan bersarang selama lima menit pertama. Apabila perlu, sekali-sekali meliriklah kepada pembimbing/promotor untuk menambah PD. Anggukan kecil dan senyum pembimbing/promotor sangat berpengaruh di dalam situasi itu.
  6. Suara yang kuat diperlukan karena akan menambah kewibawaan. Akan tetapi, sering juga terjadi, suara jadi kurang kuat karena cemas. Supaya suara bisa kuat, bernafaslah dengan teratur, keluarkan suara dari perut, jangan dari dada, sehingga tidak terkesan cengeng kayak lagu pop.

Atmazaki

 

CALENDAR

December 2017
M T W T F S S
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

ARTIKEL

Archives