Home » Pembelajaran

Category Archives: Pembelajaran

Implementasi Penilaian Otentik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Oleh Prof. Dr. Atmazaki, M. Pd.

FBS Universitas Negeri Padang

atmazaki2002@yahoo.com

 

Abstrak

Salah satu prinsip implementeasi Kurikulum 2013 adalah penggunaan penilaian otentik, yaitu penilaian yang lebih terfokus pada kemampuan melakukan ketimbang kemampuan menjelaskan. Penilaian otentik sangat relevan dengan pembelajaran bahasa Indonesia karena kompetensi inti dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia lebih terfokus pada sikap berbahasa dan keterampilan berbahasa. Namun fakta lapangan menunjukkan bawah belum terdapat kesamaan persepsi tentang apa dan bagaimana penilaian otentik itu seharusnya diimplementasikan.

Untuk keperluan implementasi K-13, konsep penilaian otentik sudah sering direvisi, mulai dari konsep yang rumit dan banyak, sampai pada konsep yang sederhana dan sedikit. Dengan konsep awal (2013), guru di lapangan merasakan kerumitan dalam implementasi penilaian otentik sehingga enggan melakukan. Setelah direvisi (diterbitkan Desember 2015), apakah guru merasa nyaman melaksnakan penilaian otentik? Apakah persoalan implementasi penilaian ini pada jumlah instrumennya, kerumitan mengisinya, ketidakpahaman konsepnya, atau pada sikap terhadap penilaian itu sendiri.

Makalah ini akan mendiskusikan tentang konsep penilaian otentik dalam konteks implementasi K-13 mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah (SMP/MTs dan SMA/MA/SMK). Fokus makalah adalah pada prosedur pengembangan dan cara implementasinya di kelas. Selain itu juga akan dibahas bagaimana guru bahasa Indonesia mempersepsi tentang penilaian otentik dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari.

 

Kata kunci: implementasi K-13; penilaian otentik; pembelajaran bahasa Indonesia

 

PENDAHULUAN

Salah satu tugas yang sangat menantang bagi guru bahasa Indonesia adalah menemukan cara yang efektif untuk menentukan apa yang telah dipelajari siswa dan seberapa banyak mereka telah belajar. Hal ini menghendaki adanya asesmen yang valid, paraktis, dan efektif, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran (Brown, 2004:4). Hughes (2003:1) menyatakan bahwa jika konten dan teknik asesmen tidak relevan dengan konten pembelajaran maka asesmen itu berdampak buruk (harmful) terhadap pembelajaran; sebaliknya jika konten dan teknik asesmen relevan dengan konten pembelajaran maka asesmen itu berdampak baik/bermanfaat (beneficial) terhadap pembelajaran. Hal itu berimplikasi bahwa guru harus menguasai berbagai jenis, bentuk, dan teknik asesmen agar relevan dengan tujuan dan konten pembelajaran. Dalam kaitan dengan pembelajaran bahasa Indonesia, guru harus menguasai berbagai jenis, bentuk, dan teknik asesmen yang dapat dengan akurat mengukur keterampilan berbahasa Indonseia siswanya.

Salah satu prinsip implementasi K-13 adalah penilaian otentik, yaitu model penilaian yang menuntut siswa melakukan tugas sebagaimana dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari (Muller, 2012). Berbeda dengan penilaian tradisional yang meminta jawaban yang benar, meskipun tidak berkaitan dengan kehidupan nyata siswa, dalam penilaian otentik yang dituntut  adalah produk kerja siswa dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Meskipun sulit diskor dengan tingkat reliabilitas yang tinggi, penilaian otentik lebih dekat dengan kenyataan sehari-hari karena yang diutamakan adalah bukti kinerja (Wiggins, 1998).

Asesmen otentik dalam pembelajaran bahasa berkembang sekitar tahun 1990-an. Menurut Brown (2004:10), pembelajaran bahasa mulai mengarah pada student centered agenda pada tahun 2000-an. Meskipun masih banyak yang menggunakan asesmen pencil and paper, tetapi untuk keterampilan lisan, menulis dan open-ended responses, para instruktur sudah mulai menggunakan asesmen berbasis kinerja (performance-based assessment). Brown (2004:251) asesmen otentik dengan istilah beyond tests. Pada masa awal perkembangannya, asesmen otentik hanya sebagai suplemen saja dari asesmen tradisional. Namun akhir-akhir ini, bentuk asesmen ini telah bekembang dengan pesat untuk mengases keterampilan berkomunikasi siswa.

Secara ringkas, mengacu pada berbagai penggunaannya dalam berbagai bidang, Brown (2004:252) mengemukakan dua belas karakteristik asesmen alternatif: (1) menghendaki siswa menampilkan, menciptakan, menghasilkan atau melakukan sesuatu; (2) menggunakan konteks duania nyata atau simulasi; (3) tidak menggangggu karena dapat dilakukan dalam aktivitas belajar sehari-hari; (4) memungkinkan guru mengases siswa tentang apa yang mereka lakukan secara normal setiap hari; (5) menggunakan tugas-tugas yang menunjukkan aktivitas belajar yang bermakna ; (6) fokus pada proses dan produk; (7) menyediakan jalan untuk mengases kemampuan berpikir tingkat tinggi dan keterampilam pemecahan masalah; (8) menyedaiakan informasi tentang kekuatan dan kelemahan siswa; (9) secara multikultural sensitif apabila dilaksanakan secara benar; (10) memastikan bahwa yang menyekor bukan mesin, tetapi orang; (11) mendorong penyingkapan kriteria standar dan rating; (12) menuntut guru agar melaksanakan pembelajaran dengan cara baru dan lebih baik.

Wiggins (1998) mengidentifikasi beberapa bentuk asesmen otentik yang dapat digunakan dalam penilaian keterampilan berbahasa, antara lain portofolio, kinerja, penilaian sendiri, dan menulis jurnal proyek. Berdasarkan sejumlah riset, ia menyatakan bahwa asesmen otentik (dengan berbagai bentuknya dan jenisnya) yang melibatkan siswa dalam menilai sendiri lebih baik dalam meningkatkan keterampilan siswa berbahasa. Dalam pembelajaran bahasa, Brown (2004:254) mengidentifikasi enam jenis asesmen alternatif, yaitu: asesmen berbasis kinerja, portofolio, jurnal, konferensi/wawancara, observasi/pengamatan, dan asesmen sendiri dan kelompok (self/peer).

Asesmen otentik memerlukan standar dalam penyekorannya sehingga diperlukan semacam skema yang disebut rubrik yaitu skala skor yang digunakan untuk menilai kinerja siswa pada tugas tertentu berdasarkan seperangkat kriteria (Lovron & Razei, 2011; Muller, 2012; Mertler, 2001). Penilaian otentik biasanya beracuan kriteria, yaitu, kemampuan siswa ditentukan dengan pencocokan kinerjanya dengan seperangkat kriteria untuk menentukan derajat kinerja yang memenuhi kriteria untuk tugas itu. Untuk mengukur prestasi siswa terhadap kriteria yang ditentukan sebelumnya, rubrik dibuat berisikan kriteria penting untuk tugas itu dan tingkat kinerja yang sesuai untuk kriteria masing-masing. Penggunaan rubrik dalam menilai hasil belajar memungkinkan umpan balik lebih baik dibandingkan dengan penilaian dengan hanya memberi sebuah angka atau skor seperti dalam bentuk tes pilihan ganda (Lovron & Razei, 2011). Hal ini disebabkan karena deskriptor dalam rubrik jelas menunjukkan apa dan bagaimana kekuatan dan kelemahan jawaban (performa) siswa dalam bidang yang diases.

PEMBAHASAN

Data tentang implementasi asesmen/penilaian otentik dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP/MTs Sumatera Barat diambil melalui observasi, wawancara dan FGD. Data dalam bentuk catatan lapangan/observasi dan rekaman wawancara (diambil dari 13 orang guru dari 7 Kabupaten/Kota) itu diolah secara kualitataif sehingga ditemukan tema-tema yang menunjukkan kondisi bagaimana implementasi penilaian otentik dalam pembelajaran bahasa Indonesia di Sumatera Barat.

Ada 14 aspek yang ditanyakan kepada guru seputar penilaian pembelajaran dan penilaian (otentik). Berikut ini deskripsinya.

 

Aktivitas pembelajaran mendengarkan

Pada umumnya narasumber menyatakan bahwa aktivitas pembelajaran mendengarkan adalah mendengarkan rekaman teks berita, pidato, wawancara, dan puisi. “Namun, tentu saja kegiatan mendengarkan selalu terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran berbahasa lainnya yaitu, membaca, menulis, dan berbicara.” (G-3) Jadi, apapun materi atau KD yang disajikan oleh guru tetap diwarnai dengan aktivitas mendengarkan. Misalnya mendengarkan penjelasan atau informasi yang diberikan guru terkait pembelajaran yang akan dilakukan atau mendengarkan petunjuk cara mengerjakan tugas.

Menurut narasumber, “….aktivitas mendengarkan berlangsung saat siswa menyimak informasi KD dan tujuan pembelajaran, dan saat guru memperdengarkan/menayangkan sesuatu untuk membangun konteks sebelum masuk pada fokus materi yang diajarkan, kemudian dilanjutkan dengan memberi kesempatan siswa untuk menanya sesuatu yang belum dipahami saat mendengarkan.” (G-2) Proses mendengarkan juga terjadi saat diskusi baik dalam kelompok kecil maupun dalam diskusi kelas sehingga terjadi proses saling mendengarkan.

Narasumber yang lain menyatakan bahwa aktivitas pembelajaran mendengarkan adalah dengan memperdengarkan rekaman berita kepada siswa lalu mereka diminta menuliskan pokok-pokok isi berita dan menuliskan kembali pokok-pokok erita itu menjadi paragraf atau dimina meneritakan kembali isi berita secara lisan. Aspek yang dinilai adalah kelancaran, keruntutan, ketepatan diksi, dan isinya sesuai dengan isi berita yang didengarkan.

Dari hasil wawancara terlihat bahwa pembelajaran mendengarkan dilaksanakan secara sangat sederhana, belum ada perencanaan yang matang, seperti tahapan yang jelas baik sebelum, sedang, dan setelah mendngarkan. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran mendengarkan belum terlaksaa dengan baik sehingga juga dapat diprediksi bahwa penilaiannya belum terlaksana dengan baik

 

Aktivitas pembelajaran berbicara

Menurut narasumber, aktivitas pembelajaran berbicara dilakukan siswa dalam bentuk berpidato, berwawancara, memerankan drama, atau berdiskusi. Aktivitas berbicara dalam pembelajaran juga terjadi ketika siswa menjawab atau mengajukan pertanyaan saat guru memberikan informasi. Namun, aktivitas berbicara seperti ini hanya dilakukan oleh beberapa orang siswa saja yang memiliki perhatian dan pemahaman terhadap pembelajaran.

Aktivitas pembelajaran berbicara dilaksanakan saat siswa diminta mencari informasi, dan mengasosiasi. Pada tahap ini, siswa saling berdiskusi untuk mencari informasi, di sini siswa saling aktif berbicara untuk menemukan informasi sesuai indikator pembelajaran. Selanjutnya siswa berbicara pada tahap mengomunikasikan (hal itu dianggap sebagai praktik berbicara),

“…tahap yang terakhir pada pendekatan saintifik yaitu mengomunikasikan, saat ini siswa langsung praktik berbicara, dengan menyampaikan hasil diskusi kelompok kecil pada diskusi kelas, dan siswa kelompok lain menanggapi atau mengomentarinya, saat proses ini berlangsung siswa secara teratur saling berbicara.” (G-5)

 

Bentuk lain aktivitas pembelajaran berbicara adalah siswa mengamati sebuah tayangan, lalu diminta untuk memberikan tanggapan atau menceritakan kembali apa yang sudah diamati secara lisan. Siswa biasanya dibagi ke dalam beberapa kelompok, siswa mengamati sebuah tayanganlalu diminta untuk memberikan tanggapan atau menceritakan kembali apa yang sudah diamati secara lisan.

Berdasarkan rangkuman informasi dari narasumber terebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan berbicara belum terencana dengan baik. Kegiatan berbicara merupakan konsekuensi dari siswa melakukan aktivitas mendapatkan dan mengolah informasi sehingga sudah pasti tidak di bawah kendali guru. Siswa berbicara (sebagian besar dengan bahasa daerah karena berbicara dalam konteks mencari dan mengolah informasi, tidak dalam latihan berbicara). Dengan demikian juga dapat diprediksi bahwa penilaian berbicara juga belum maksimal.

 

Aktivitas pembelajaran membaca

Menurut narasumber, aktivitas membaca selalu menjadi menu pembuka dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Apapun KD yang dipelajari, siswa tetap memulainya dengan membaca antara 5 sampai 10 menit. Beberapa siswa bisa diminta membaca teks yang disediakan guru atau yang terdapat dalam bahan ajar sebanyak satu atau dua paragraf saja dengan bersuara. Kemudian guru meminta siswa menjelaskan isi atau maksud yang terkandung dalam bacaan tersebut. Teks yang dibaca biasanya terkait dengan materi yang akan dipelajari.  Hal ini dilakukan agar siswa memiliki kebiasaan dan kegemaran membaca. Di samping itu siswa bisa mendapatkan gambaran  tentang materi yang akan dibahas. Aktivitas pembelajaran membaca yang dilatihkan kepada siswa di antaranya membaca pemahaman, membaca ekstensif, membaca cepat, dan membaca nyaring, dll.

Dalam konteks pelaksanaan pendekatan saintifik, aktivitas membaca terjadi saat Mengamati beragam teks model untuk memahami struktur dan ciri-ciri bahasa teks. Pemahaman masing-masing siswa kemudian didiskusikan dalam kelompok kecil, dalanjutkan ke diskusi kesas, akhirnya mengambil kesimpulan.

Aktivitas lain yang dilakukan dalam pembelajaran membaca adalah siswa ditugaskan untuk membaca sebuah wacana, lalu menjawab pertanyaan terkait dengan wacana itu. Jawaban itu kalau bisa disampaikan di depan kelas sehngga lain dapat menanggapi.

Berdasarkan rangkuman informasi dari narasumber tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca merupakan awal semua kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam kegiatan membaca terjadi tanya jawab antara siswa berdasarkan isi bacaaan.

 

Aktivitas pembelajaran menulis

Menurut narasumber, aktivitas pembelajaran menulis yang dilakukan di antaranya menulis surat, laporan, petunjuk, puisi, sinopsis novel, drama, dll. Di samping itu siswa juga menulis kesimpulan hasil belajar pada setiap akhir kegiatan pembelajaran.

Kegiatan yang dilakukan mengikuti pola pendekata berbasis teks, menulis teks secara bersama (kelompok), menulis teks secara mandiri. Menulis teks secara bersama sebagaimana yang terdapat dalam buku teks siswa, disediakan kalimat acak, siswa secara berkelompok menyusun kalimat acak tersebut menjadi teks sesuai strukturnya. Tahap berikutnya siswa menyusun teks secara mandiri, sesuai struktur teks dan ciri-ciri bahasanya.

Menurut narasumber yang lain, kegiatan menulis terdapat pada tahap Memproduksi teks. Prosedurnya adalah siswa (1) diberikan pemodelan; (2) diminta menginterpretasi dan menganalisis; (3) ditugaskan untuk menulis sebuah teks dengan langkah: (a) tentukan tema, (b) kumpulkan bahan, (c) buat kerangka karangan, dan (d) kembangkan kerangka menjadi karangan yang utuh. Teks yang dibuat harus sesuai dengan struktur teks dan EYD.

Aktivitas lain adalah dalam pembelajaran menulis adalah siswa diberi sebuah gambar atau siswa diajak untuk keluar kelas untuk melihat-melihat apa yang ada di luar kelas. Setelah itu dari ide yang didapatkannya itu dituliskan.

 

Penilaian untuk mendengarkan

Menurut narasumber, penilaian yang digunakan terkait dengan aktivitas menyimak atau mendengarkan lebih berupa latihan atau penugasan. Latihan ini berupa mendengarkan sebuah teks (berita, pidato, wawancara, puisi) kemudian siswa diberikan pertanyaan secara lisan. Kemudian guru dan siswa membahas kesesuaian jawaban siswa dengan teks yang diperdengarkan tadi. Narasumber lain malah menyatakan bahwa dalam K-13 tidak ada tes tersendri untuk keterampilan mendengarkan, berbicara, dan membaca karena penilaiannya terdiri atas sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Informasi dari narasumber menunjukkan bahwa tidak ada tes (penilaian) untuk keterampilan menyimak; pembelajaran mendengarkan hanyalah pelengkap untuk sampai ke keterampilan menulis.

 

Penilaian untuk berbicara

Penilaian yang digunakan dalam berbicara berupa tes unjuk kerja yang  terkait dengan kompetensi berbicara seperti menyampaikan laporan, berpidato, dan memerankan drama. Pembelajaran berbicara hanya berupa tes lisan.

Informasi dari narasumber menunjukkan bahwa tidak ada penilaian khusus untuk keterampilan berbicara. Pada umumnya guru menggunakan pembelajaran berbicara sebagai tahapan untuk sampai ke keterampilan menulis saja.

 

Penilaian untuk membaca

Penilajan dalam pembelajaran membaca dilakukan dalam bentuk membaca puisi, membaca perangkat upacara, membaca puisi, dll. Membaca dapat berupa teks lisan maupun tertulis. Pada pembelajaran membaca biasanya tidak dikhususkan.

Informasi singkat ini menunjukkan bahwa guru kurang memahami prosespenilaian dalam keterampilan membaca. Pembelajaran membaca langsung dianggap sebagai penilaian sehingga tidak ada perencanaan kusus untuk penilaian.

 

Penilaian untuk menulis

Menurut narasumber, penilaian dalam pembelajaran menulis berupa tes unjuk kerja seperti menulis surat, menulis laporan, menulis puisi, menulis petunjuk, dll. Tes yang digunakan dalam pembelajaran menulis ada dua macam, yaitu (1) tes pengetahuan, biasanya dibuat dalam bentuk tes objektif, yang menguji  tentang kemampuan siswa memahami struktur dan ciri-ciri kebahasaan teks yang diuji; (2) tes keterampilan menulis dalam bentuk uraian yang menguji kemampuan siswa dalam memproduksi berbagai jenis teks. Penilaian portofolio juga dilakukan, tetapi tidkdijelaskan bagaimana portofolio dijadikan alat penilaian. Seagiana guru juga melakukan penilaian keterampilan menulis dalam bentuk esai dan objektif.

 

Penulis tes

Menurut narasumber, pada umumnya, untuk ulangan harian dan ujian tengah semester, soal dibuat oleh guru sendiri, tetapi untuk ujian akhir semester dibuat oleh MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah). Semua narasumber sepakat menyatakan seperti itu.

 

Penilaian otentik dalam pembelajaran bahasa Indonesia

Menurut narasumber, penilaian otentik hanya untuk kompetensi menulis dan berbicara (sesekali). Itu pun hanya untuk kompetensi dasar yang dianggap esensial saja. Guru cenderung lebih terfokus pada KD membaca dan menulis. Hal ini terjadi karena Dinas Pendidikan menyelenggarakan ujian bersama pada tengah semester dan semester. Soal dibuat oleh tim penulis  yang ditunjuk MKKS (MGMP) dalam bentuk pilihan ganda. Khusus untuk bahasa Indonesia, kompetensi dasar yang diujikan dalam ujian tersebut hanya kompetensi membaca dan menulis.

Semua narasumber sepakat bahwamereka menggunakan penilaian otentik di sekolah, walau tidak menjelaskan bagaimana prosesnya sampai mendapatkan skor/nilai siswa.

 

Pengalamaman Membuat Tes Kinerja

Semua narasumber menyatakan sudah mempunyai pengalaman dalam membuat dan melaksanakan penilaian otentik walau tidak mampu menjelaskan bagaimana proses membuat dan melaksanakannya. Ada yang menyatakan bahwa soal dan tugas-tugas kinerja seperti ini dituliskan saja di papan tulis.

Informasi singat ini emnunjukkkan, paling kurang dapat dijadikan indikator, bahwa guru belum menggunakan penilaian otentik untuk keterampilan berbahasa.

 

Penggunaan rubrik

Semua narasumber menyatakan bahwa mereka telah menggunakan rubrik dalam menilai, “Saya menggunakan rubrik yang terdapat dalam RPP, tetapi terkadang ada beberapa rubrik yang saya revisi demi penyempurnaan.” “Ya, saya membuat, dan menggunakan rubrik terutama untuk keterampilan  menulis.” (G-8)

Sayang sekali, narasumber tidak mampu menunjukkan seperti apa rubrik itu. Itu merupakan indikasi bahwa mereka tidak memahami, apalagi menggunakan, rubrik dalam menilai keterampilan berbahasa Indonesia siswanya.

 

Akurasi penilaian

Menurut narasumber, tes kinerja yang mereka validasi dapat membantu, bahkan sangat membantu, guru dalam menilai secara akurat karena kriteria yang dinilai lebih terinci, dan guru bisa mengetahui pada kriteria mana siswa belum tuntas dan perlu perbaikan.

Dengan adanya rubrik ini malah membantu guru. Guru dapat meminta siswa untuk saling menilai dengan mempertukarkan kertas kerjanya, menilai dengan mempedomani rubrik yang ditayangkan atau dibagikan pada siswa. Siswa malah punya pengalaman, mereka tidak hanya sekedar melihat angka nilai yang diberikan, tapi siswa mengetahui begian mana yang salah, kenapa salah dan bagaimana yang benarnya.

 

Kemudahan bagi siswa

Pada umumnya guru menyatakan bahwa penilaian kinerja seperti yang mereka validasi ini dapat membantu siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas kinerja dengan lebih baik karena perintahnya lebih sistematis dan kriteria penilaiannya lebih jelas. “Ya, penilaian kinerja seperti ini membantu siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas kinerja dengan lebih baik.” Apalagi, “Aspek penilaian disampaikan kepada siswa. Jadi, sangat membantu siswa dalam penilaian.” (G-10)

 

Kesulitan bagi siswa

Menurut narasumber, penilaian kinerja seperti ini tidak menyulitkan siswa dalam menyelesaikan tugas, malah siswa memperoleh pengalaman dan mengetahui bagian mana yang sudah benar, dan mana bagian yang salah, serta bagaimana yang benarnya. Akan tetapi, akan lebih baik dikonfirmasikan terlebih dahulu kepada siswa.

 

Kendala yang dihadapi guru

Sebagian narasumber menyatakan bahwa kendala dialami oleh guru dalam memberikan tugas-tugas kinerja adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa tugas kinerja karena dikerjakan siswa secara individu. ( mis. 5 kelas dikali 32 0rang).  Akan tetapi, narasumber lain menyatakan, “Tidak ada kendala, cuma memerlukan tambahan waktu.” (G-6)

 

Upaya meningkatkan pencapaian KKM

Menurut narasumber, guru akan melakukan remedial pada kriteria yang belum tuntas. Jika sebagian besar siswa (klasikal) belum tuntas maka pembelajaran tentang KD tersebut akan diulang.

Sayangnya, remedial yang dimaksudkan oleh nerasumber adalah melakukan tes ulang, bukan pembelajaran ulang, kecuali kalau satu kelas belum mencapai KKN.

Selain wawancara dan observasi, melalui telaah terhadap dokumen RPP (telaah difokuskan pada aspek penilaian) yang dibuat oleh guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMP/MTs Sumatera Barat dan hasil FGD (focus group discussion) di salah satu SMP di Kota Padang, dapat disimpulkan bahwa penguasaan dan kemamuan guru-guru bahasa Indonesia dalam hal asesmen masih kurang. Fakta-fakta yang diperoleh menunjukkan bahwa aspek asesmen belum tertangani dengan baik. Di dalam RPP, banyak jenis asesmen yang disebutkan, tetapi instrumen yang dibuat hanya satu jenis. Misalnya, dituliskan bahwa asesmen dilakukan dengan tes objektif, esai, dan unjuk kerja. Namun instrumen yang dicantumkan hanya soal esai. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa guru tidak konsisten atau belum mampu membuat instrumen penilaian alternatif, misalnya tes kinerja.

Selain itu, pada umumnya, asesmen yang dilakukan berbentuk tes objektif dan esai. Dalam kompetensi Mendengarkan, misalnya, guru memperdengarkan bacaan, kemudian siswa diberi serangkaian soal objektif atau esai berdasarkan teks itu. Lalu, dihitung berapa salah dan berapa benar. Dalam kompetensi Membaca, misalnya, guru meminta siswa membaca sebuah teks, kemudian siswa diminta menjawab soal objektif atau esai. Lalu, dihitung berapa benar dan berapa salah. Asesmen aspek Berbicara dan Menulis dilakukan dengan perasaan saja (hasil FGD). Guru memberikan skor berdasarkan pendengarannya atau tulisan siswa tanpa ada patokan, apa yang dinilai dan bagaimana menilainya. Hal ini menunjukkan bahwa alat penilaian yang digunakan kurang, bahkan tidak relevan dengan tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. Selain itu, lebih menggunakan perasaan dapat bermakna guru kurang memperhatikan aspek objektivitas suatu penilaian.

Sebagian RPP berisi jenis asesmen kinerja, tetapi perintah kerjanya belum jelas, kriteria asesmen belum lengkap, rubrik belum mantap, terutama penentuan kriteria dan deskriptornya. Hal ini berarti bahwa ada sebagian guru bahasa Indonesia yang mencoba mengembangkan asesmen kinerja, tetapi belum mampu mengembangkan instrumen dan penyekorannya dengan tepat.

Tidak ditemukan jenis penilaian portofolio, jurnal, proyek, dan investigasi, asesmen sendiri dan sebaya. Padahal, jenis asesmen ini sangat penting dalam upaya mengetahui pencapaian siswa dalam periode tertentu. Hal ini berarti bahwa variasi bentuk dan teknik asesmen belum dipahami sebagian besar guru bahasa Indonesia di Sumbar. Pada umumnya, guru-guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Sumbar belum mampu membuat asesmen lain sebagai otentik dari asesmen tes objektif dan esai. Selain itu, kepala sekolah juga tidak menuntut asesmen yang lain, yang penting adalah siswa diberi skor. Pada umumnya guru mengakui bahwa tes objektif dan esai belum sepenuhnya dapat dijadikan alat ukur untuk keterampilan berbahasa Indonesia siswa, namun keterbatasan kemampuan dalam membuat asesmen otentik membuat mereka tetap membuat tes objektif dan esai saja.

Aktivitas di MGMP pun, misalnya dalam membuat soal-soal try out atau upaya membekali siswa menghadapi UN, masih terfokus pada pembuatan soal-soal objektif. Hal ini disebabkan karena soal UN hanya dalam bentuk pilihan ganda (multiple choice). Jadi, kondisi dan tuntutan UN tidak berbanding lurus dengan tuntutan K-13.

Dari deskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian otentik belum terimplementasi dengan baik di SMP/MTs Sumatera Barat. Berdasarkan kenyataan tersebut, peningkatan kemampuan guru dalam mengembangkan asesmen otentik perlu dilakukan.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membant guru mengimplementasikan penilaian otentik di sekolah. Selain melalui pelatihan khusus, guru dapat dilibatkan dalam penelitian pengembangan yang dilakukan akademisi di perguruan tinggi. Supaya guru akrab dengan model penilaian kinerja diperlukan pengenalan dan pemodelan kepada mereka. Kepada mereka perlu diperkenalkan seperti apa alat penilaian kinerja yang benar, baik format maupun isinya.

Berikut ini adalah contoh instrumen penilaian kinerja yang dikembangkan bersama mahasiswa pasasarjana dan divalidasi ke guru-guru SMP/MTs Sumatera Barat.

 

Contoh 1: Tes Kinerja Menulis Teks Eksposisi

 

Konteks:

Anda pernah melihat atau pergi ke laut bukan? Di sana Anda tentu melihat dan  merasakan banyak hal, seperti melihat deburan ombak, melihat kepiting yang berjalan di pasir pantai, melihat orang yang berjualan di sepanjang pinggir pantai, melihat keluarga berpiknik dan  masih banyak yang Anda lihat di pantai tersebut. Anda juga dapat merasakan semilir angin pantai menerpa wajah Anda, merasakan asinnya air garam disaat Anda mandi-mandi di pantai, dan masih banyak lagi yang Anda rasakan di pantai tersebut.

Instruksi:

  1. Tulislah sebuah karangan eksposisi dengan tema pantai!
  2. Karangan tersebut, minimal, terdiri atas tiga paragraf!
  3. Karangan Anda harus mencakup semua struktur teks eksposisi!
  4. Gunakan bahasa yang efektif dan baku!
  5. Anda diberi waktu 4X45 menit!
  6. Anda akan dinilai dengan rubrik di bawah ini.

Rubrik:

No Kriteria Bobot Tingkat Kinerja Skor
4 3 2 1
1. Isi 4 Teks mengandung unsur tesis, argumentasi dan penguatan pendapat Teks mengandung unsur tesis dan argumentasi saja, teks mengandung unsur tesis dan penguatan pendapat saja, teks mengandung unsur argumentasi dan penguatan pendapat saja Teks mengandung unsur tesis saja, atau unsur argumentasi saja, atau unsur penguatan pendapat saja. Teks tidak mengandung ketiga unsur tersebut
2. Struktur 3 Struktur teks sangat tepat dan lengkap serta sistematis Struktur teks tepat dan sistematis tetapi kurang lengkap Struktur teks cukup tepat tetapi tidak sistematis Struktur teks kurang tepat dan tidak sistematis
3. Bahasa 3 Penggunaan kata sifat dan kata kerja ditulis dengan sangat tepat dan sesuai, kalimat yang digunakan efektif  dan baku Penggunaankata sifat dan kata kerja ditulis dengan tepat tetapi tidak efektif dan baku Penggunaan kata sifat dan kata kerja ditulis cukup tepat tetapi tidak baku Penggunaan kata sifat dan kata kerja ditulis kurang tepat dan tidak menggunakan kalimat efektif dan tidak baku
4. Waktu 2 Tugas dikumpul tepat waktu Tugas dikumpul  terlambat lima belas menit Tugas dikumpul terlambat tiga puluh menit Tugas dikumpul tidak pada saat itu
Jumlah 12 16 12 8 4

 

Contoh 2: Tes Kinerja Menyampaikan Teks Tantangan

 

Konteks:

Dinas pendidikan dan kepala sekolah tingkat SMP sepakat mengeluarkan aturan siswa SMP dilarang membawa telepon genggam berkamera ke sekolah. Peraturan itu dikeluarkan karena pihak dinas pendidikan berpendapat bahwa siswa SMP belumlah memerlukan telepon genggam canggih untuk proses belajar mengajar. Sebaliknya, pada umumnya siswa SMP tidak setuju dengan keputusan itu karena menurut mereka telepon genggam yang berkamera memiliki aplikasi yang  dapat mendukung kelancaran proses pembelajaran. Ketika ada kata-kata sulit atau pembelajaran yang tidak dimengerti, mereka bisa mencari informasi dengan waktu yang singkat.

 

Instruksi:

Anda diminta untuk menyampaikan pendapat tentang keputusan pemerintah mengeluarkan aturan ini! Anda mengemukakan pendapat di depan kelas. Anda hanya diberi waktu tiga menit, dimulai dengan aba-aba kata, “Mulai!”

Sebelum mengemukakan pendapat, Anda boleh mengamati rubrik penilaian untuk Anda pedomani bagaimana dan dengan kriteria apa pendapat Anda akan dinilai.

 

Rubrik:

No Kriteria Bobot Tingkat Kinerja Skor
4 3 2 1  
1 Isi 4 Siswa menyampaikan gagasannya sesuai dengan topik pembahasan. Siswa menyampaikan gagasannya kurang sesuai dengan topik pembahasan. Siswa menyampaikan gagasannya tidak  sesuai dengan topik pembahasan. Siswa tidak mampu menyampaikan gagasannya di depan kelas
2 Struktur 3 Siswa menyampaikan gagasannya sesuai dengan struktur teks tantangan. Isu/ masalah, argumen menentang, dan kesimpulan Siswa menyampaikan gagasannya sesuai dengan dua struktur teks tantangan. Isu/ masalah, dan argumen menentang. Siswa menyampaikan gagasannya sesuai dengan satu struktur teks tantangan yaitu isu/ masalah Siswa menympaikan gagasannya tidak sesuai dengan struktur teks.
3 Bahasa 3 Terdapat 2 kesalahan berbahasa Terdapat 4-6 kesalahan berbahasa Terdapat 7 kesalahan berbahasa Terdapat lebih dari 7 kesalahan berbahasa
4 Lafal 2 Ketika menyampaikan gagasan lafal siswa sangat jelas Ketika menyampaikan gagasan lafal siswa secara umum sudah baik, tetapi terdapat 1 lafal yang kurang jelas. Ketika menyampaikan gagasannya lafal siswa secara umum sudah baik, tetapi terdapat 3 lafal yang kurang jelas. Ketika menyampaikan gagasan, terdapat lebih dari 3 lafal yang kurang jelas.
5 Intonasi 2 Penggunaan intonasi dengan tepat Penggunaan intonasi sudah baik, meskipun terdapat 2 penggunaan intonasi yang tidak tepat Penggunaan intonasi cukup, terdapat 3-5 penggunaan intonasi yang tidak tepat Terdapat lebih dari 6 penggunaan intonasi yang tidak tepat.
6 Waktu 2 Sesuai dengan waktu yang disediakan. Melebihi waktu yang disediakan 1 menit Melebihi waktu yang disediakan 2 menit Melebihi waktu yang disediakan lebih dari 3 menit
Jumlah 16 64 48 32 16

 

SIMPULAN

Pada umumnya, guru bahasa Indonesia SMP/MTs di Sumater Barat belum akrab dengan penilaian otentik. Mereka mengetahui, tetapi kurang memahami, sebagian yang memahami juga belum terbiasa mengembangkan dan menggunakannya dalam pembelajaran. Penilaian otentik memang lebih baik digunakan untuk penilaian proses karena hasilnya dapat digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran, tetapi guru belum terbiasa menggunakannya.

Hampir tidak ada upaya yang dilakukan oleh guru atau kelompok guru untuk meningkatkan kemamuan merekayasa soal otentik karena tidak ada yang menuntut hal itu. Kegiaan-kegiatan di MGMP pun lebih terfokus pada pengembangan soal pilihan ganda untuk membantu siswa menghadapi UN. Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya dalam bentuk konret seperti pelatihan atau melibatkan guru dalam penelitian pengembangan agar guru terbiasa mengembabgkan tes kinerja untuk keperluan pembelajaran bahasa Indonesia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Assessment Reform Group, UK . 2002. “What is Assessment for Learning?” Diambil tangal 10 Maret 2013 dari: http://www .assessmentfor learning. edu.au/ professional_ learning/ modules/ intro_to_afl/ introduction_ key_questions.html

“Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa kedua Indonesia”. Diambil tangl 11 Maret 2012 dari: http://www.antaranews.com/berita/339952/bahasa-inggris-sudah-menjadi-bahasa-kedua-indonesia.

Borg, Walter R. 1983. Educational Reseach and Intoduction. New York: Longmann.

Boston, Carol. 2002. “The Concept of Formative Assessment. Practical Assessment, Research & Evaluation, 8(9). Diambil tanggal 27 May 2013 dari http://PAREonline.net/getvn.asp?v=8&n=9 .

Brown, H. Dooglas. 2004. Language Assessment: Principles and Classroom Practices. New York: Longman.

Chapman, Carmen (1999). Authentic writing assessment. Practical Assessment, Research & Evaluation, 2(7). Retrieved January 27, 2013 from http://PAREonline.net/getvn.asp?v=2&n=7 ..

Depdiknas. 2006. Permen No 22/2006 tentang Standar Isi.

Gall, Borg, and Gall.  1996.  Educational Research An Introduction.  Sixth  Edition. New York :  Longman Publishers.

Gay. L. R.  1996.  Educational Research.  Fifth Edition.  New Jersey :  Prentice-Hall., Inc. A Simon & Schuster Company.

Hamayan, Else V. 1995. “Approach to Alternative Assessment”. Annual Review of Applied Linguistic; 15-212-226. Cambridge: Cambridge University Press.

Hughes, Arthur. 2003. Testing for Language Teacher. Cambridge: Cambridge Univesity Press.

Jalal. 2012. “Mengembalikan Semangat Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Pemersatu Bangsa”. Diambil tanggal 12 Maret 2013 dari: http://jalal-fib.web.unair.ac.id/artikel_detail-42041-Umum-Mengembalikan-Semangat_Bahasa_Indonesia_Sebagai_Bahasa_Pemersatu_Bangsa.html)

Lovorn, Michael G.. & Ali Reza Rezaei (2011). Assessing the Assessment: Rubrics Training for Pre-service and New In-service Teachers. Practical Assessment, Research & Evaluation, 16(16). Available online: http://pareonline.net/getvn.asp?v=16&n=16

Mertler, Craig A. 2001. “Designing Scoring Rubrics For Your Classromm.” Dalam Practical Assessment: Research and Evaluation, No 7 (25) diambil tanggal 4 Mei 2009 dari: http//:PAREonline.net/getvn.asp?v=7@n=25

Muller, Jonahan. 2012. “What is Authentic Assessment?.” Diambil tanggl 10 Maret 2012 dari: http://jfmueller. faculty.noctrl. edu/toolbox/ whatisit. htm#names

Mueller, Jon. 2005. “The Authentic Assessment Toolbox: Enhancing Student Learning through Online Faculty Development. Merlot: Journal of Online Learning and Teaching, Volume 1/1, 2005.

“Penggunaan bahasa Indonesia Memprihatinkan”. Diambil tanggl 12 Maret 2013 dari: http://www.padangmedia.com/1-Berita/76654-Penggunaan-Bahasa-Indonesia-Memprihatinkan.html

Palm, Torulf. 2008. Performance Assessment and Authentic Assessment: A Conceptual Analysis of the Literature. Practical Assessment Research & Evaluation, 13(4). Available online: http://pareonline.net/getvn.asp?v=13&n=4

Suryono Brandoi Siringi-Ringi. 2012. “Alangkah Kacau Balaunya Penggunaan Bahasa Indonesia Saat Ini”. Dalam Kompas Online tanggal 7 Februari 2012. Diambil tanggal 12 Maret 2012 dari: http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/07/alangkah-kacau-balaunya-penggunaan-bahasa-indonesia-saat-ini-433567.html

Thiagarajan, S., Semmel, D. S & Semmel, M. I. 1974. Instructional Development for Training Teachers of Expectional Children. Minneapolis, Minnesota: Leadership Training Institute/Special Education, University of Minnesota.

Wiggins, G. 1994. “Toward more authentic assessment of language performances.” Dalam Hancock, C. R. (Ed.), Teaching, Testing, and Assessment: Making the connection. Northeast conference reports. Lincolnwood, IL: National Textbook Co.

(Makalah ini disajikan dalam Seminar Nasional dengan Tema: “Kajian Mutakhir Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Menghadapi MEA” tanggal 21 Mei 2016 di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang)

CALENDAR

December 2017
M T W T F S S
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

ARTIKEL

Archives