Home » Sastra » Teka-teki dalam Bahasa Minangkabau

Teka-teki dalam Bahasa Minangkabau

Spread the love

Pendahuluan

Kekayaan budaya Indonesia sangat banyak dan beragam. Pada setiap daerah terdapat apa yang dinamakan warisan nilai budaya, baik yang tertulis maupun yang hidup secara lisan, baik berbentuk benda-benda, berupa kepercayaan-kepercayaan, sikap-sikap dan tatacara, maupun permainan-permainan. Semua itu masih dapat dilihat, didengar dan diperagakan sampai saat ini.

Setiap warisan budaya itu merupakan  karakteristik daerah masing-masing, meskipun pada bentuk-bentuk tertentu mempunyai persamaan. Ia mempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting. Oleh sebab itu untuk melestarikan “adanya suatu daerah” maka yang perlu dilestarikan adalah budayanya. Jika budaya daerah hilang maka hilang pula (identitas atau ciri) daerah itu.

Teka-teki, merupakan salah satu folklor lisan Minangkabau yang masih hidup sampai sekarang. Di zaman dahulu, semasa para remaja masih tidur di surau, semasa “kuda masih menggigit besi”, semasa “kereta api beratap ijuk” dan semasa “gunung Merapi sebesar telor itik”, teki-teki merupakan hiburan tersendiri. Teman “selapik seketiduran” berlomba untuk mengemukakan teka-tekinya untuk menunjukkan bahwa mereka menguasai banyak teka-teki, baik teki-teki yang menimbulkan ketawa maupun yang menimbulkan sakit hati. Bahkan, tidak sedikit teka-teki yang miring-miring (terkesan porno).

Teka-teki tidak sekadar sebuah bahasa (tradisional) rakyat, tetapi juga sebentuk permainan rakyat karena, sekurang-kurangnya, dimainkan oleh dua orang, yang mengajukan pertanyaan dan yang menjawab. Jika si penjawab tidak bisa menerka, maka penanya akan menjawab sendiri, dan sangat sering diakhiri dengan tertawa bersama-sama. Di segi inilah teka-teki berfungsi sebagai hiburan. Akan tetapi bagaimana teka-teki dipahami dan bagaimana nilai humor di dalam teka-teki, terutama, dalam bahasa Minangkabau, masih jarang dilakukan. Para peneliti dalam sastra lisan Minangkabau masih terfokus pada aspek sastra dan nilai-nilai sosialbudaya kaba, sejenis sastra lisan berbentuk prosa liris.

Penelitian yang mendasari artikel ini difokuskan pada berbagai aspek teka-teki dalam bahasa Minangkabau: jenis, kategori, fungsi, konteks, pemahaman, dan nilai humor. Namun artikel ini hanya akan menyoroti secara khusus proses mental yang terjadi ketika pembaca mendeteksi jawaban dan nilai humor yang terdapat dalam teka-teki bahasa Minangkabau.

Pada satu sisi, teka-teki adalah sejenis karya sastra, yaitu karya sastra tradisional dan pada sisi lain adalah sejenis permainan rakyat. Sebagai karya sastra, ia berbentuk bahasa yang muncul dengan pola tertentu seperti sajak tradisional tetapi, sebagai permainan rakyat, ia dimainkan sekurang-kurangnya oleh dua orang (penanya dan penjawab). Teka-teki biasanya mendeskripsikan binatang, orang, tumbuh-tumbuhan atau objek lain dengan cara yang membingungkan (Ensiklopedia Britannica, 2002). http://www.britannica.com/bcom/eb/article/9/0,5716

Teka-teki merupakan bagian dari folklor lisan, semacam kebudayaan lisan yang muncul secara kolektif dengan versi dan variasi yang berbeda. Penggolongan teka-teki sebagai folklor lisan disebabkan karena teka-teki itu terdiri atas pertanyaan (descripticve) dan jawaban (referent) dalam bentuk lisan (Danandjaja,1984).

Teka-teki diciptakan berdasarkan lingkungan sosialbudaya dan sosialgeografis masyarakat. Oleh sebab itu, aspek deskriptif/pertanyaan selalu berhubugan hal-hal itu seperti, makhluk hidup, binatang, manusia, tanaman, benda, pertambahan keterangan perumpamaan, pertambahan keterangan pada bentuk dan fungsi, pertambahan keterangan pada warna, dan pertambahan dalam tindakan. Kategori itu diartikan sebagai seauatu yang dilukiskan untuk membangun teka-teki dengan variasi dan versinya (Taylor dalam Danandjaja,1984:36).

Teka-teki dimainkan oleh semua lapisan masyarakat yang telah mengerti dengan kias. Teka-teki boleh dikatakan tidak mengenal tempat. Bagi orang yang berbakat dan menguasai banyak teka-teki, di mana dan kapan saja ia bisa berteka-teki. Hal yang pasti adalah bahwa berteka-teki digunakan untuk menghidupkan suasana percakapan. Tek-teki ditampilkan pada setiap ada kesempatan, baik dalam keadaan santai  maupun dalam bertugas (Rusyana (1981:49).

Sesuai dengan unsur-unsurnya, yaitu deskripsi (pelukisan) dan referen (jawaban) maka untuk dapat menemukan referen, seseorang harus memahami deskripsi terlebih dahulu. Setelah memahami deskripsi, ia harus menghubungkan lagi dengan sesuatu yang mempunyai kemiripan, kesamaan, atau justru keberlawanannya dengan isi deskripsi itu. Jika deskripsi itu mampu “menyentuh” (lighting up) butir-butir pengetahuan dan pengalaman—apa yang diistilahkan dengan skemata (Gleason dan Ratner, 1993:281) yang terkait maka seseorang akan sampai pada jawabannya.

Proses pemahaman seperti itu di dalam teori akses leksikal, terutama dalam model logogen, model penelusuran (search), dan model connectionist bermula dari adanya rangsangan dari kata-kata tertulis atau terdengar yang memicu (fire) file makna atau logos atau atau node-node yang tersimpan dalam leksikon makna di dalam syaraf otak (makna mental). Apabila ada keterkaitan antara kata-kata pemicu dengan makna mental maka kata-kata akan dikenal dan makna dipahami (Gleason dan Ratner, 1993:408—435). Dalam kaitan ini, teka-teki terjawab.

Secara lebih khusus, akses leksikal menurut model logogen dan connectionist sangat ditentukan oleh kumpulan butir-butir logos “kata-kata primitif” yang tersimpan di dalam otak manusia. Semakin sering kata-kata primitif itu muncul maka semakin cepat akses leksikal. Dalam level yang lebih besar (teks dan wacana) butir-butir itu justru berupa kata, frase, kalimat, dan wacana atau pengertian-pengertian/pemahaman. Semakin sering aspek-aspek itu muncul semakin cepat pula proses akses pengertian yang terkait dengan kata itu ketika sebuah teks dan atau wacana dibaca atau didengar (Gleason dan Ratner, 1993:170—181 dan 432–437.

Dalam konteks penelitian ini, proses pemahaman itu bermula dari pemahaman pembaca terhadap kata-kata yang terdapat di dalam deskripsi teka-teki (makna mental pembaca atau pendengar dipicu oleh kata-kata tertentu yang terdapat di dalam deskripsi). Oleh karena kata-kata itu terdapat di dalam kalimat sehingga maknanya juga bergantung pada konteks kalimat (relasi kata dengan kata) maka proses kedua adalah memahami keutuhan makna kontekstual itu. Ketika makna kontekstual itu telah didapat, barulah ia menelusuri jaringan skemata pembaca atau pendengar sehingga mampu atau tidak mampu menjawab teka-teki.

Salah satu aspek menarik dalam teka-teki adalah nilai humor yang terkandung di dalamnya. Dalam Ensiklopedia Britannica (2002) dijelaskan bahwa humor berarti bentuk komunikasi yang dapat merangsang tertawa. Kebanyakan humor, mulai dari yang paling sederhana sampai kepada cerita bergambar, muncul berupa tanggapan yang tiba-tiba dari dua konteks yang konsisten tetapi bertentangan satu sama lain. Ketidakcocokan yang tiba-tiba antara dua konteks yang berbeda ini menghasilkan efek lucu karena dapat mendorong si pendengar untuk merasakan situasi seperti ada kecocokan namun pada saat yang sama justru bertentangan dari segi referensi. Tipe kreatif aktivitas mental ini menimbulkan kesenangan pada manusia, sekurang-kurangnya dalam konteks humor yang mengapresiasikan kehidupan.

Humor berfungsi sebagai sarana penyaluran emosi  dengan cara yang dapat diterima secara sosial. Tertawa adalah cara yang aman bagi orang yang bertensi tinggi. Pandangan antropologis sering menunjukkan bahwa humor pada budaya yang paling sederhana kadang cukup kejam bila dilihat dengan standar modern. Kesusastraan penuh dengan cerita-cerita yang menimbulkan tawa, kesengsaraan binatang yang terluka dan canda yang menyakitkan bagi orang lain.

Sistem mekanisme syaraf manusia mempunyai potensi untuk tertawa atau melucu yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan atau penyesuaian diri. Sedangkan tertawa itu sendiri dipicu oleh berbagai hal yang salah satunya adalah humor. Humor itu sendiri terjadi jika ide-ide yang bertentangan bertemu di luar kelaziman yang hanya mampu disampaikan oleh orang yang mempunyai kelebihan/ keunggulan dibandingkan orang lain.  Oleh karena di luar kelaziman maka ia menimbulkan kejutan (surprise) sehingga orang tersenyum atau tertawa (Goldstein & McGhee, 1972). Kejutan inilah yang disebut Kostler sebagai overstatement of the body yang berasal dari apa yang disebutnya “proses bisosiatif” dalam berpikir kreatif, yaitu timbulnya hubungan antara dua matriks yang tadinya tidak tampak berhubungan sehingga menimbulkan tertawa (Noerhadi, 1983):18—21).

Berdasarkan beberapa prinsip yang menyebabkan terjadinya humor, dilihat dari segi linguistik, ternyata hal yang sangat berperan dalam menimbulkan humor adalah penggunaan penyimpangan atau pertentangan dalam tindak ujaran baik dari segi kata, kalimat maupun wacana. Penyimpangan dan pertentangan itu dimanfaatkan oleh orang yang suka membuat humor menjadi sesuatu yang seolah-olah sama, tetapi kesamaan itu hanya ada dari satu sisi yang menggelikan sehingga menimbulkan tawa (Wilson dalam Sudjatmiko, 1992:69—85).

Dalam konteks teka-teki, humor muncul dalam bentuk pertentangan ide yang ada dalam deskripsi baik berupa leksikal maupun kalimat. Yang disebut pertentangan di sini adalah dua ide yang sama dijadikan berlawanan dan dua ide yang berlawanan dijadikan sama sehingga menimbulkan kelucuan. Aspek lucu itu dirasakan setelah diketahui jawabannya (referent) karena hasil pertentangan itu terimplikasi di dalam jawaban.

Artikel ini bertujuan untuk memberikan suatu penjelasan tentang proses pemahaman teka-teki dalam bahasa Minangkabau dengan pendekatan psikolinguistik, terutama teori-teori akses leksikal. Di samping itu, dijelaskan juga bagaimana aspek humor bisa tejadi di dalam sebuah teka-teki.

 

Metode Penelitian

Data penelitian ini adalah jawaban teka-teki yang diungkapkan dalam bahasa Minangkabau. Teka-teki dikumpulkan melalui permintaan kepada informan, dalam hal ini adalah mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia program S1 Nonreguler (guru-guru LTP dan SMU) angkatan 2000/2001 (semuanya orang Minangkabau). Untuk mengetahui bagaimana teka-teki dipahami dan nilai humor di dalamnya dilakukan pengujian kepada 30 orang siswa, dalam hal ini dipilih SMUN Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman (di luar wilayah pengumpulan teka-teki). Pemilihan sekolah ini dilakukan karena tidak ada informan pengumpul teka-teki dari daerah ini. Oleh sebab itu, aspek pemahaman dan nilai humor diujikan kepada siswa dari daerah ini. Teka-teki yang diajukan berjumlah 15 butir (diformat dalam bentuk angket) yang dipilih dari sejumlah teka-teki yang terkumpul yang diperkirakan cocok dengan calon responden (tidak jorok, tidak begitu porno, diperkirakan tidak begitu sulit, sesuai dengan situasi sekolah, tidak menimbulkan rasa malu antara guru-siswa). Sebelum diajukan kepada siswa dihilangkan terlebih dahulu jawabannya.

Setelah angket diisi dan dikembalikan, kepada siswa/responden dibacakan jawaban yang cocok/yang disediakan untuk mengetahui reaksi mereka dari segi humornya. Berikutnya, jawaban siswa diklasifikasi dan ditabulasikan untuk mengetahui kecocokan jawaban dan  nilai humor yang terdapat pada setiap teka-teki. Berdasarkan tabulasi data dibuat deskripsi tanggapan responden terhadap setiap teka-teki dan dianalisis serta diinterpretasikan. Selanjutnya, setelah dibahas berdasarkan teori yang diacu maka disimpulkan. Berdasarkan kegiatan itu semua ditulis laporan penelitian ini.

Beberapa patokan yang digunakan dalam menentukan tingkat pengetahuan dan pengalaman responden dalam mendeteksi jawaban dan nilai humor teka-teki. Tingkat pengetahuan dan pengalaman responden diukur berdasarkan persentase jumah jawaban yang cocok dengan kriteria sebagai berikut.

  • Tidak baik/tidak cukup              : 0,00%—25,00%
  • Kurang baik/kurang cukup     : 26,00%—50,00%
  • Baik/cukup                                       : 51,00%–75,00 %;
  • Sangat baik/sangat cukup       : 76,00%—100%.

Untuk menentukan aspek humor masing-masing teka-teki digunakan perhitungan: 30 responden dibagi 4 = 7,5; berdasarkan angka itu dibuat rentangan sebagai berikut: 1—7,5 = tidak lucu; 8—15 = kurang lucu; 15,5—22,5 = lucu; 22,6—30 = sangat lucu. Tingkat humor secara keseluruhan digunakan perhitungan: 30 orang responden dikali 15 buah teka-teki = 450/4 = 112,5. Berdasrkan angka itu ditetapkan kriteria: nilai 1—112,5 = tidak lucu; 112,6—225 = kurang lucu; 225,5—337,5 = lucu; 337,6—450 = sangat lucu. Sementara itu, hasil pengamatan di kelas, berdasarkan reaksi responden ketika jawaban yang cocok dibacakan untuk setiap teka-teki digunakan patokan: 1 = tidak lucu; 2 = kurang lucu; 3 = lucu; 4 = sangat lucu.

 

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Dari 45 orang informan terkumpul sebanyak 455 butir teka-teki. Setelah dilakukan pengidentifikasian dipastikan bahwa hanya 227 butir teka-teki yang berbeda. Artinya, di antara informan yang satu dengan informan yang lain ternyata menuliskan teka-teki yang sama (kecuali ada perbedaan redaksi, tetapi unsur deskripsi dan jawabannya sama) sehingga diambil satu saja sebagai contoh). Pengambilan dilakukan berdasarkan kelengkapan unsur-unsurnya (deskripsi dan jawaban).

Berdasarkan pengajuan 15 butir teka-teki kepada 30 orang siswa diperoleh gambaran seperti berikut ini.

 

Teka-teki 1:

Apo beda kacang panjang jo sarawa panjang?

Jawab: kacang panjang kalau dikarek namonyo tatap kacang panjang, kalau sarawa panjang dikarek namonyo sarawa pendek.

(Apa beda kacang panjang dengan celana panjang?

Jawab: kacang panjang kalau dipotong namanya tetap kacang panjang, celana panjang kalau dipotong namanya celana pendek)

 

Terhadap teka-teki di atas, sebanyak 33,33% jawaban responden cocok dengan jawaban yang disediakan, 50% tidak cocok, sedangkan 16,66% tidak menjawab. Di samping itu, 40% responden menyatakan bahwa teka-teki ini lucu; 23,33% menyatakan tidak lucu, sedangkan 36,66% tidak menjawab. Jawaban tidak cocok yang muncul adalah, “Kacang panjang dimakan, sarawa panjang dipakai.” (Kacang panjang untuk dimakan, celana panjang untuk dipakai) dan “Kacang panjang untuak digulai, sarawa panjang untuak dipakai.” (Kacang panjang untuk digulai; celana panjang untuk dipakai).

Deskripsi itu dapat diinterpretasikan bahwa pengetahuan dan pengalaman (skemata) responden secara rata-rata kurang baik/kurang cukup untuk mampu mendeteksi jawaban yang cocok untuk teka-teki nomor ini. Proses mental yang terjadi sewaktu mengakses jawaban dinilai kurang baik. Oleh karena itu adalah pantas kalau lebih banyak responden menyatakan bahwa teka-teki ini kurang lucu. Dua macam jawaban responden yang tidak cocok memperlihatkan bahwa responden kurang merasa sedang berhadapan dengan teka-teki karena kedua jawaban itu adalah jawaban linear dan menggunakan logika biasa.

 

Teka-teki 2:

Batu, batu apo nan paliang disukoi kasado urang?

Jawab: batunangan

(Batu, batu apa yang paling disukai semua orang?

Jawab: bertunangan)

 

Terhadap teka-teki di atas, sebanyak 76,66% jawaban responden cocok dengan jawaban yang disediakan, 20,% tidak cocok, dan 3,33% tidak menjawab. Di samping itu, sebanyak 26,66% responden mengatakan bahwa teka-teki ini mengandung lucu, 23,33% mengatakan tidak lucu, sedangkan 50% tidak menjawab. Jawaban tidak cocok yang muncul adalah “batu akiak” (batuk akik), “batu nan paguno” (batu yang berguna), “batu intan” (batu intan), “batu parmato” (batu permata).

Deskripsi itu dapat diinterpretasikan bahwa secara rata-rata kemampuan responden baik/cukup untuk mendeteksi jawaban yang cocok teka-teki ini. Proses mental yang terjadi sewaktu mengakses jawaban ternyata baik sehingga tidak relevan kalau rata-rata responden menganggap teka-teki ini tidak lucu. Jawaban responden yang tidak cocok memperlihatkan bahwa  sebagian responden lebih mengakses kata-kata yang terarah pada “batu” sebagai sebuah benda yang disukai sehingga muncul kata-kata “permata”, “yang berguna”, “akik”, dan “intan”. Kemunculan kata-kata yang demikian, sebenarnya, wajar sesuai dengan skemata responden tetapi mereka kurang menyadari bahwa soal yang dihadapinya adalah teka-teki sehingga jawaban “biasa” itu menjadi tidak tepat, apalagi, pada teka-teki nomor 2 terdapat permainan kata-kata (batu + nangan = batunangan = bertunangan). Permainan kata-kata itulah yang menimbulkan kelucuan.

 

Teka-teki 3:

Bawang dikarek ujuang pangkanyo, jadi apo?

Jawab: awan

(Bawang dipotong ujung pangkalnya, menjadi apa?

Jawab: awan).

 

Terhadap teka-teki di atas, 90% jawban responden cocok dengan jawaban yang disediakan, 6,66% tidak cocok, dan hanya 3,33% yang tidak menjawab. Dilihat dari aspek kelucuan, 26,66% responden menjawab lucu, 23,33% menjawab tidak lucu, sedangkan 50% responden tidak menjawab. Jawaban yang tidak cocok yang muncul adalah “bulek” (bulat), dan “tapisah-pisah” (terpisah-pisah).

Deskripsi itu dapat diinterpretasikan bahwa hampir semua responden mampu mendeteksi jawaban teka-teki ini. Artinya, responden mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang sangat baik/sangat cukup untuk mendeteksi jawaban dan juga memahami bahwa mereka sedang berhadapan dengan teka-teki karena juga merupakan permainan kata-kata. Kemampuan mendeteksi ini bisa berarti bahwa responden telah akrab dengan teta-teki ini atau juga kemampuan mendeteksi kemungkinan jawaban dengan tepat. jawaban “bulat” menunjukkan bahwa responden itu tidak menyadari keteka-tekiannya karena memang kalau bawang dipotong ujung pangkalnya akan menjadi bulat. Akan tetapi, jawaban “terpisah-pisah”, sebenarnya bisa cocok karena ada teka-teki yang jawaban benarnya “hanya” pada penanya sehingga berbagai kemungkinan bisa muncul. Memang, bawang akan terpisah-pisah kalau dipotong-potong, tetapi nilai teka-tekinya kurang “in”. Meskipun dominan sekali responden yang menjawab cocok, namun sedikit yang mampu mendeteksi kelucuannya. Tentu hal ini berkaitan dengan “sense of humor” para responden. Sesungguhnya terdapat keanehan ketika mereka mengatakan tidak lucu atau tidak menanggapi sama sekali karena dengan menjawab “awan”, seharusnya mereka langsung mendeteksi kelucuannya. Oleh sebab itu, terutama yang tidak menjawab, dapat diprediksi bahwa mereka bukan tidak merasakan kelucuan melainkan karena tidak mengisi angket saja.

 

Teka-teki 4:

Kapa tabang masuak lauik dima kaluanyo?

Jawab: di surek kaba

(Kapal terbang masuk laut, di mana keluarnya?

Jawab: di surat kabar)

 

Terhadap teka-teki di atas, 60% jawaban responden cocok dengan jawaban yang disediakan, 13,33% jawaban tidak cocok, sedangkan 26,66% tidak menjawab. Dari aspek humor, 30% responden menjawab bahwa teka-teki ini lucu, 20% mengatakan tidak lucu, dan 50% tidak menjawab. Jawaban tidak cocok yang muncul adalah “diirik ka tapi lauik” (ditarik ke pinggir laut) dan “di darek” (di darat).

Deskripsi di atas dapat diinterpretasikan bahwa pengetahuan dan pengalaman (skemata) responden baik/cukup untuk mendeteksi jawaban teka-teki ini. Namun masih sedikit responden yang merasakan adanya nilai humor di dalam teka-teki ini. Sama dengan teka-teki nomor 3, karena banyak yang tidak menjawab, kekuranglucuan teka-teki ini bisa karena tidak mau menjawab atau karena memang tidak merasakan adanya kelucuan di dalamnya. Namun demikian, ditilik dari jawaban yang disediakan, yang sebagian besar responden menjawab dengan cocok, mestinya mereka merasakan adanya kelucuan itu karena jawabannya sangat tidak terduga. Secara normal (kalau ini tidak teka-teki), jawabannya tentulah “di pinggir laut” tetapi ketika jawabanhya adalah “di surat kabar” maka yang dimaksud adalah beritanya. Tetapi itulah uniknya teka-teki, semakin tidak terduga jawabannya semakin tinggi nilai teka-teki itu.

 

Teka-teki 5:

Kok paralu dibuang, kok indak paralu disimpan. A kok iyo?

Jawab: jalo

(Kalau perlu dibuang, kalau tidak perlu disimpan.  Apakah itu?

Jawab: jala ikan).

Terhadap teka-teki di atas, hanya 6,66% responden yang menjawab dengan cocok, 70% tidak cocok, dan 23% tidak menjawab. Sementara itu, 36,66% mengatakan bahwa teka-teki ini lucu/mengandung humor, 25% mengatakan tidak, dan 43,33 % tidak menjawab. Jawaban-jawaban yang tidak cocok yang muncul adalah “pitih” (uang), “tacirik” (berak), dan “surek kaba” (surat kabar).

Deskripsi di atas dapat diinterpretasikan bahwa rata-rata pengetahuan pengalaman responden tidak baik/tidak cukup untuk mempu mendeteksi jawaban teka-teki ini. Yang lucu, justru, masih banyak yang mengatakan bahwa teka-teki ini lucu, padahal jawaban yang cocok hanya dua orang. Akan tetapi, kelucuan itu (yang mereka anggap lucu) mungkin pada jawaban yang tidak cocok. Jika hal itu benar, maka kelucuan itu dapat diterima karena ketiga jawban itu memang mengandung kelucuan. Kelucuan muncul justru karena ketidakcocokannya. Namun, pada umumnya responden tidak menjawab.

 

Teka-teki 6:

Urang indak mangaja, inyo lari; inyo bamanuang, indak ado nan dinanti. A kok iyo?

Jawab: urang sadang buang aia gadang

(Orang tidak mengejar, dia lari; dia bermenung, tidak ada yang dinanti. Apakah itu?

Jawab: orang sedang berak).

 

Terhadap teka-teki di atas, 86,66% jawaban responden cocok dengan jawaban yang disediakan, 6,66% tidak cocok, 6,6% pula yang tidak menjawab. Dari segi humor, 43,33% responden mengatakan bahwa teka-teki ini lucu, 6,66% mengatakan tidak lucu, dan 50% tidak menjawab. Jawaban tidak cocok yang muncul adalah  “bayang-bayang” (bayang-bayang).

Deskripsi data di atas dapat diinterpretasikan bahwa responden mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang sangat baik/sangat cukup untuk mendeteksi jawaban teka-teki ini. Kata-kata yang digunakan dalam deskripsi teka-teki cukup untuk memancing kamus leksikal mereka. Oleh sebab itu, adalah wajar juga kalau banyak di antara mereka yang merasakan adanya unsur humor di dalam teka-teki ini. Meskipun ada satu jawaban lain, tetapi hal itu tidak signifikan karena jawaban itu kecil sekali kaitannya dengan kata-kata deskripsi. Sesuai dengan kebiasaan orang Pariaman, kata-kata “buang berak” itu cepat terpicu oleh hal-hal yang terkait dengan kata itu.

 

Teka-teki 7:

Di ateh batang kayu inggok sapuluah buruang, mati dua ikua ditembak urang, bara nan tingga?

Jawab: duo, salabiahnyo tabang

(Di atas batang kayu hinggap sepeluh ekor burung, mati dua ekor ditembak orang, berapa yang tinggal?

Jawab: dua, selebihnya terbang)

 

Terhadap teka-teki di atas, 50% jawaban responden cocok, 43,33% tidak cocok, sedangkan 6,66% tidak menjawab. Di samping itu, 23,33% menyatakan bahwa teka-teki ini lucu, 6,66% menyatakan tidak lucu, dan 70% tidak menjawab. Jawaban lain yang muncul adalah sapuluah ikua (sepuluh ekor) dan “salapan ikua” (delapan ekor).

Deskripsi itu dapat diinterpretasikan bahwa pengetahuan dan pengalaman responden kurang baik/kurang cukup untuk mendeteksi jawaban teka-teki ini. Pada satu sisi ada aspek matematika di dalamnya, tetapi kalau dilihat sebagai teka-teki, aspek matematika itu bercampur dengan aspek humor. Ketidakmampuan menggabungkan dua aspek itulah yang menyulitkan responden menjawab dan merasakan aspek humor di dalamnya. Yang menjawab sepuluh ekor beralasan bahwa yang tertembak hanya ekornya, jadi tidak ada yang mati sehingga tinggal (di pohon) semuanya; sedangkan yang menjawab delapan ekor beralasan bahwa “yang tinggal” itu adalah yang tidak tertembak. Padahal, di dalam konteks teka-teki ini, “yang tinggal” diartikan yang jatuh mati karena yang tidak mati/jatuh pasti akan terbang mendengar letusan senapan. Jadi, aspek humor di dalam teka-teki ini terletak pada logika teka-teki, bukan pada logika biasa.

Teka-teki 8:

Binatang apo nan paliang tuo di lauik?

Jawab: sudang

(Binatang apa yang paling tua di laut?

Jawab: udang)

 

Terhadap teka-teki di atas, 100% jawaban responden cocok dengan jawaban yang disediakan. Di antara mereka 56,66% mengatakan bahwa teka-teki ini lucu, 6,66% mengatakan tidak lucu, sedangkan 36,66% tidak menjawab.

Deskripsi di atas dapat diinterpretasikan bahwa teka-teki ini sudah begitu akrab dengan responden. Terlihat bahwa tidak saja pengetahuan dan pengalaman mereka sangat baik/sangat cukup untuk mendeteksi jawaban teka-teki ini tetapi juga keakraban mereka dengan teka-tekinya. Hal ini diduga karena mereka adalah penduduk pinggir pantai yang akrab dengan “udang” sehingga memunculkan teka-teki. Teka-teki, biasanya, diciptakan dari hal-hal yang akrab dengan masyarakat karena hal ini berhubungan dengan penguasaan (kosa kata) bahasa. Oleh sebab itu, seketika teka-teki ini diajukan, proses mental mereka cepat menuju kepada jawaban yang sudah akrab itu (sebagaimana dalam teori akses leksikal, kata-kata yang akrab lebih cepat diakses dibandingkan kata-kata yang tidak akrab).

 

Teka-teki 9:

Pucuak indak sampai ka langik, urek indak sampai ka bumi. A kok iyo?

Jawab: piambang

(Pucuk tidak sampai ke langit, akar tidak sampai ke bumi. Apakah itu?

Jawab: kiambang/eceng gondok)

 

Terhadap teka-teki di atas, 43,33% jawaban responden cocok dengan jawaban yang disediakan, 20% tidak cocok, dan 36,66% tidak menjawab. Di samping itu, 13,33% responden mengatakan teka-teki ini lucu, 13,33% mengatakan tidak lucu, dan 76,66% tidak menjawab. Jawaban tidak cocok yang muncul adalah “angan-angan” (angan-angan).

Deskripsi di atas dapat diinterpretasikan bahwa pengetahuan dan pengalaman rata-rata responden kurang baik/kurang cukup untuk mendeteksi jawaban teka-teki ini. Dilihat dari nilai humor, rendahnya tanggapan responden berkaitan erat dengan rendahnya nilai humor teka-teka itu sendiri (yang tidak menjawab, mungkin, dapat mengindikasikan hal itu juga). Dilihat dari segi deskripsi maupun jawaban, memang, teka-teki ini tidak begitu lucu, baik dilihat dari jawaban yang cocok maupun jawaban yang tidak cocok. Hal ini berarti bahwa rata-rata tanggapan responden benar.

 

Teka-teki 10:

Anu orang Arab panjang-panjang, anu urang Cino tigo sarangkai. A kok iyo?

Jawab: namo

(Punya orang Arab panjang-panjang, punya orang Cina tiga serangkai. Apakah itu?

Jawab: nama)

 

Terhadap teka-teki di atas, 40% jawaban responden cocok dengan jawaban yang disediakan, 36,66% tidak cocok, dan 23,33% tidak menjawab. Di samping itu, 50% menyatakan bahwa teka-teki ini lucu, 6,66% menyatakan tidak lucu, dan 43,33% tidak menjawab. Jawaban tidak cocok yang muncul adalah “sunguik” (kumis), “anue” (anunya), dan “iduang” (hidung).

Deskripsi di atas dapat diinterpretasikan bahwa pengetahuan dan pengalaman responden rata-rata kurang baik/kurang cukup untuk mendeteksi jawaban teka-teki ini. Dari segi kelucuan juga mereka kurang bisa merasakannya. Munculnya jawaban “kumis” dan “hidung” memperlihatkan bahwa file lexical mereka yang tergugah berkaitan dengan bentuk fisik orang sehingga kurang dirasakan kelucuannya. Padahal, jawaban yang cocok, yaitu “nama”, sebenarnya lucu karena nama orang Arab cendrung panjang (dua atau tiga kata), ditambah bin atau binti, sementara nama orang Cina biasanya tiga-tiga, seperti Chiang Kai Sek dan Liem Swie King.

 

Teka-teki 11:

Ado urang punyo anak baduo. Kecek nan gadih, “Mak, a nan ka dimasak?” Kecek nan bujang, Mak, padati den pacah.” Amaknyo manjawab sakali sajo. A kok iyo?

Jawab: tempe sajolah

(Ada orang punya anak berdua. Kata yang gadis, “Mak apa yang akan dimasak?” Kata yang bujang, “Mak pedati saya pecah.” Mamaknya menjawab sekali saja. Apakah itu?

Jawab: tempel sajalah)

 

Terhadap teka-teki di atas, 60% jawaban responden cocok dengan jawaban yang disediakan, 3,33% tidak cocok, dan 36,66% tidak menjawab. Sedangkan dari segi humor, 23,33% responden menyatakan bahwa teka-teki ini lucu, 13,33% menyatakan tidak lucu, dan 63,33% tidak menjawab. Jawaban tidak cocok yang muncul adalah “Mati jelah kalian!” (Mati sajalah kalian).

Deskripsi di atas dapat diinterpretasikan bahwa pengetahuan dan pengalaman responden baik/cukup untuk mendeteksi jawaban teka-teki ini. Namun sedikit sekali responden yang menyatakan bahwa teka-teki ini lucu. Keadaan ini, sebenarnya, aneh karena didalamnya ada permainan kata. Di dalam bahasa Minangkabau, kata “tempe” berarti “tempel”, sedangkan dalam bahasa Indonesia berarti sejenis makanan.

 

Teka-teki 12:

Dipanggang indak anguih; disiram indak basah; dikakok indak taraso. A kok iyo?

Jawab: bayang-bayang

(Dibakar tidak hangus; disiram tidak basah; dipegang tidak terasa. Apakah itu?

Jawab: bayang-bayang)

 

Terhadap teka-teki di atas, 63% jawaban responden cocok dengan jawaban yang disediakan, 6,66% tidak cocok, dan 30% tidak mengisi. Dari segi humor, 20% responden menyatakan bahwa teka-teki ini lucu, 13,33% menyatakan tidak lucu, dan 66,66% responden tidak menjawab. Jawaban tidak cocok yang muncul adalah “api”.

Deskripsi di atas dapat diiterpretasikan bahwa pengetahuan dan pengalaman responden baik/cukup untuk mendeteksi jawaban teka-teki ini. Dari segi humor, kecil persentase responden yang menyatakan ada kelucuan ada benarnya karena baik dekripsi maupun jawaban, memang, kurang lucu. Teka-teki ini lebih menguras pikiran logis ketimbang pikiran yang berkaitan dengan kelucuan. Jawaban tidak cocok malah sulit diterangkan dari mana munculnya karena hampir tidak terlihat adanya indikasi dari deskripsi teka-teki yang dapat dijadikan alasan untuk menjawab dengan kedua jawaban tidak cocok itu.

 

Teka-teki 13:

Kalau satangah dikatokan panuah, kalau panuah dikatokan kurang. A kok iyo?

Jawab: bulan

(Kalau setengah dikatakan penuh, kalau penuh dikatakan kurang. Apakah itu?

Jawab: bulan

 

Terhadap teka-teki di atas, 56,66% jawaban responden cocok dengan jawaban yang disediakan, 10% tidak cocok, dan 33,33% tidak menjawab. Dari segi humor, 16,66% menyatakan bahwa teka-teki ini lucu, 13,33% menyatakan tidak lucu, dan 70% tidak menjawab. Jawaban tidak cocok yang muncul adalah  “dulang” (dulang) dan “katiak” (ketiak).

Deskripsi di atas dapat diinterpretasikan bahwa pengethuan dan pengalaman rsponden baik/cukup untuk mendeteksi jawaban teka-teki ini. Namun sedikit sekali yang menyatakan bahwa teka-teki ini lucu. Artinya, menurut mereka, teka-teki ini tidak lucu atau tidak merasakan adanya kelucuan karena sebagian besar tidak menjawab. Jawaban tidak cocok juga sulit untuk dapat dilacak dari kata-kata yang digunakan dalam deskripsi teka-teki.

 

Teka-teki 14:

Apo nan dijarangkan sabalun mamasak?

Jawab: katiak

(apa yang dijarangkan sebelum memasak?

Jawab: ketiak)

 

Terhadap teka-teki di atas, 26,66% jawaban responden cocok dengan jawaban yang disediakan, 53,33% tidak cocok, dan 20% tidak menjawab. Dari segi humor, 20% responden menyatakan bahwa teka-teki ini lucu, 13,33% menyatakan tidak lucu, dan 66,66% tidak menjawab. Jawaban tidak lucu yang muncul adalah “tungku”, (tungku) “kaki”, (kaki) “api” (api), dan “aie” (air).

Deskripsi di atas dapat diinterpretasikan bahwa pengetahuan dan pengalaman pembaca kurang baik/kurang cukup untuk mendeteksi jawaban teka-teki ini. Di samping itu, sedikit sekali responden yang merasakan adanya kelucuan dalam teka-teki ini. Ketidaklucuan teka-teki ini agak sebanding dengan jawaban yang cocok. Artinya, kalau responden mampu menemukan jawaban yang cocok maka mereka akan merasakan adanya humor di dalamnya. Akan tetapi banyaknya jawaban tidak cocok yang muncul ditambah dengan yang tidak menjawab sama sekali juga berkaitan dengan rendahnya tingkat nilai humor dalam teka-teki ini. Kata “tungku”, “api”, dan “air” adalah benda yang biasa dalam kaitan memasak sehingga tidak terkesan lucu.

 

Teka-teki 15:

Daun talatak di dalam batang, buah talatak di dalam daun. Batang a kok iyo?

Jawab: lamang

(Dalam batang ada daun, dalam daun ada buah. Apakah itu?

Jawab: lemang).

 

Terhadap teka-teki di atas, 50% jawaban responden cocok dengan jawaban yang disedaiakan, 13,33% tidak cocok, dan 36,66% tidak menjawab. Dari segi humor, 20% responden menyatakan bahwa teka-teki ini lucu, 10% menyatakan tidak lucu, dan 70% tidak memberikan jawaban. Jawaban tidak cocok yang muncul adalah “lontong” (lontong).

Deskripsi di atas dapat diinterpretasikan bahwa pengetahuan dan pengalaman responden kurang baik/kurang cukup untuk mendeteksi jawaban teka-teki ini. Dari segi kelucuan, justru sangat dominan responden yang tidak bisa menentukan sikap lucu atau tidak. Memang teka-teki ini lebih banyak menguras daya deteksi jawaban daripada daya rasa humornya. Jawaban yang tidak cocok pun, sebenarnya, agak mendekati jawaban yang cocok, hanya tidak ada orang membuat lontong dengan bambu.

Dari semua tanggapan responden tersebut dapat disimpulkan beberapa hal. Pengetahuan dan pengalaman (skemata) responden untuk mendeteksi jawaban terhadap ke-15 teka-teki yang diajukan adalah seperti pada tabel halaman sebelah ini.

 

Tabel 1: Tingkat skemata responden untuk mendeteksi jawaban teka-teki

Sangat baik/ Sangat cukup

 

Baik/Cukup

Kurng baik/Kurang cukup

Tidak baik/ Tidak cukup

 

Jumlah

Skor: 3,1—4,0

Skor: 2,1—3,0

Skor: 1,1—2,0

Skor: 0,0—1,0

 

3,6,8 2,4,11,12,13 1,7,9,10,14,15 5, 15 butir
3 butir 5 butir 6 butir 1 butir 15 butir
3 x 4 = 12 5 x 3 =15 6 x 2 =12 1 x 1 = 1 40

40 : 15 = 2,66 (Baik/Cukup)

 

Nilai humor teka-teki secara keseluruhan ada 134. Berdasarkan rentangan yang telah ditetapkan maka secara keseluruhan teka-teki yang diajukan dianggap kurang lucu.

Di samping data kuantitatif diperoleh juga data kualitatif berupa hasil pengamatan selama proses pengisian jawaban teka-teki. Berdasarkan catatan pengamat terlihat bahwa responden sangat antusias dan tidak henti-hentinya tersenyum dan tertawa. Setiap kali pindah ke nomor berikutnya terlihat mereka tersenyum atau tertawa. Situasi ini dapat diinterpretasikan bahwa suasana berteka-teki (meskipun tertulis) adalah suasana berlucu-lucu. Kelucuan dapat timbul karena suasana berteka-teki itu sendiri dan juga karena teka-teki yang sedang dibacanya memang lucu.

Kelucuan juga muncul karena suasana berteka-teki sendiri dan karena bahasanya adalah bahasa Minangkabau yang dituliskan. Andaikan diucapkan, mungkin dari segi bahasa tidak begitu lucu, tetapi karena dituliskan (bahasa Minangadalah bahasa lisan), terutama pertanyaannya (A kok iyo? (apakah itu?) menjadikan suasana pengumpulan data sangat heboh. Ketika jawaban yang cocok (sesuai dengan yang dipersiapkan) dibacakan/disampaikan kepada responden, mereka tertawa terbahak-bahak. Namun tingkat tertawa itu berbeda-beda dari satu teka-teki ke teka-teki yang lainnya. Hal itu dapat diinterpretasikan bahwa kandungan humor di dalam teka-teki yang diajukan ternyata berbeda-beda dan kadar pengetahuan dan pengalaman (skemata) responden yang disentuh oleh kadar humor itu juga berbeda-beda.

Berdasarkan simpulan hasil pengolahan data ternyata bahwa pengetahuan dan pengalaman responden berada pada taraf baik/cukup untuk mendeteksi jawaban yang cocok untuk semua teka-teki yang diajukan. Simpulan ini dapat berarti bahwa para siswa yang dijadikan responden penelitian ini telah akrab dengan teka-teki dan telah cukup berpengalaman untuk bermain teka-teki. Hal ini juga berarti bahwa file leksikal para muri sekolah yang menjadi sampel penelitian ini mudah diakses melalui deskripsi teka-teki.

Sesuai dengan teori akses leksikal kemampuan siswa tersebut juga menunjukkan bahwa proses mental yang terjadi sewaktu menjawab teka-teki berjalan dengan cepat melalui node-node atau jaringan syaraf menuju file leksikal, yang sebenarnya, adalah kumpulan pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan di dalam “mangkok” memori. Tentu saja isi memori itu berkaitan erat dengan sosiobudaya dan sosiogeografis tempat mereka bertempat tinggal. Hal itu terbukti bahwa teka-teki yang berkaitan dengan “laut” lebih banyak yang mampu menjawab cocok ketimbang dengan teka-teki yang berhubungan dengan “kolam”. Teka-teki yang jawabannya “udang” lebih mudah mereka terka ketimbanga teka-teki yang jawabannya “lemang” karena daerah Pariaman memang tidak terkenal dengan makanan yang bernama “lemang”. Bukankah teka-teki diciptakan berdasarkan hal-hal yang ada di sekitar kehidupan masyarakat?

Dari segi humor, rata-rata responden mengatakan bahwa teka-teki yang diajukan kurang lucu. Temuan ini, sekurang-kurangnya, menunjukkan dua hal: teka-teki tersebut memang tidak lucu, atau responden yang tidak mampu merasakan kelucuan di dalamnya.

Dalam teori humor dikatakan bahwa kelucuan timbul karena adanya pertentangan yang muncul tiba-tiba pada dua situasi yang semula diduga sama; atau sebaliknya, yang semua terlihat sama, ternyata mempunyai pertentangan pada sisi tertentu yang sensitif. Hal yang sensitif inilah yang menggerakkan otot-otot yang mendukung timbulnya gerakan pada bibir, mulai dari tersenyum kecut sampai tertawa terbahak-bahak. Sehubungan dengan jawaban “kurang lucu” dari responden, dapat diinterpretasikan bahwa responden kurang mampu melihat sisi-sisi sensitif pada ketiba-tibaan munculnya pertentangan atau persamaan pada jawaban teka-teki.

Aspek sensitif yang sangat dominan dalam teka-teki adalah yang menyentuh hal-hal yang porno. Namun demikian, kesan kepornoan itu sering hanya pada permukaan atau pada deskripsi karena menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan kelamin, hal-hal yang sensual, atau seks. Ketika jawabannya ditemukan, ternyata tidak ada yang porno. Hal itulah yang menimbulkan senyum atau tawa. Seperti pada teka-teki nomor 10, kata “anu” agak sensitif karena sering dihubungkan dengan alat kelamin, padahal dalam teka-teki itu, “anu” ternyata “nama”. Dalam bahasa Minangkabau, “anu” bisa juga bermaksud sesuatu yang tidak diketahui atau sesuatu yang lupa waktu itu, atau sekadar pengisi jeda.

Di samping hal-hal yang berhubungan dengan aspek sosiobudaya dan sosiogeografis, teka-teki banyak juga yang berhubungan dengan hitungan-hitungan. Seperti pada teka-teki nomor 7, pada satu sisi ada aspek matematika di dalamnya, tetapi kalau dilihat sebagai teka-teki, aspek matematika itu bercampur dengan aspek humor. Ketika penjawab tidak mampu menggabungkan dua aspek itu maka jawabannya sulit diterka sehingga tidak merasakan humor di dalamnya.

Permainan kata-kata juga tidak jarang digunakan dalam teka-teki. Permainan kata-kata ini biasanya dengan membolak-balik kata, substitusi antara bahasa Indonesia dengan bahasa daerah, sinonim, dan lain-lain. Seperti pada teka-teki nomor 14, kata “jarang” dalam bahasa Indonesia merupakan antonim kata “sering” tetapi dalam bahasa Minangkabau, kata itu juga berarti menaikkan periuk ke atas tungku (sejenis kata kerja) dan juga dapat berarti “jarak”. Ketika seseorang menaikkan periuk ke atas tungku, maka tangannya akan terulur ke depan sehingga ketiaknya terbuka (jarang, tidak merapat).

 

Simpulan

Teka-teki adalah salah satu folklor lisan yang terdapat hampir pada setiap etnis. Sebagai sebuah etnis yang mempunyai bahasa daerah sendiri, Minangkabau mempunyai banyak teka-teki yang berhubungan dengan sosiobudaya dan sosiogeografisnya. Beribu teka-teki telah diciptakan oleh masyarakat Minangkabau sejak dahulu dan teka-teki itu masih diperagakan sampai saat ini meskipun frekuensinya sudah mulai berkurang karena pengaruh hiburan pop yang mulai merasuki kehidupan masyarakat.

Pengetahuan dan pengalaman itu terungkap dalam penelitian ini. Dari 15 buah teka-teki yang diajukan ternyata pengalaman responden cukup/baik sehingga mampu mendeteksi jawabannya. Begitu aspek humor, pada dasarnya responden mampu mendeteksi humor kecuali teka-teki yang memang kurang mengandung humor. Hal itu mengisyaratkan bahwa proses mental yang terjadi sewaktu menjawab teka-teki berjalan dengan baik. Rangsangan yang diberikan oleh deskripsi teka-teki dengan mudah membakar node-node yang menghubungkan rangsangan itu dengan file leksikal yang ada dalam syaraf otak responden. Dengan saling terhubungnya node-node tersebut maka akses leksikal yang merupakan jawaban teka-teki dengn cepat terjadi: teka-teki terjawab dan humor mengemuka, jadilah senyum atau tertawa.***

 

Daftar  Pustaka

Danandjaja, James. (1984). Folklor Indonesia (Ilmu Gosip, Dongeng, dll). Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Ensiklopedia Britannika http://www.britannica.com. (download tanggal 2 desember 2001, pukul 22.00 wib).

Gleason, Jean Berko & Ratner, Nan Bernstein, (Eds.), 1998. Psycholinguistik. New York: Harcourt Brace College Publisher.

Goldstein, J.H., McGhee, Paul E. 1972. The Psychology of Humour.  New York: Academic Press.

Noerhadi, T.H. 1983. “Kreativitas: Suatu Tinjauan Filsafat” dalam Alisjahbana, S.T. (Ed.). Kreativitas. Jakarta: Dian Rakyat.

Rusyana, Yus. (1981). Cerita Rakyat Nusantara (Himpunan Makalah Tentang Cerita Rakyat). Bandung: FKSS IKIP Bandung.

Soedjatmiko, Wuri. “Aspek Linguistik dan Sosiokultural di dalam Humor” dalam Purwo, Bambang Kaswanti. 1992. PELBA 5: Bahasa Budaya. Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atma.

 


2 Comments

  1. Terimakasih Prof, hasil penelitianya sangat memberi pencerahan tentang foklor yang berkenaan tentang teka-teki tradisional Minangkabau. izin mengkutip yaa Prof, untuk memenuhitugas kuliah.Tulisan ini sungguh menginspirasi. Semoga pewaris kebudayaan dinegeriini makin menghargai dan terus mencintai hasil cipta,rasa dan karsa para tetua ditengah pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CALENDAR

December 2017
M T W T F S S
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

ARTIKEL

Archives