Home » Pembelajaran » IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

Spread the love

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA: Pola Pikir, Pendekatan Ilmiah, Teks (Genre), dan Penilaian Otentik[1]

 

Atmazaki[2]

Universitas Negeri Padang

 

A.  Pendahuluan

Setelah berdebat panjang lebar melalui media massa dan proses sosialisasi ke berbagai perguruan tinggi dan organisasi-organisasi di bidang pendidikan, akhirnya pemerintah (Kemendikbud) memutuskan pelaksanaan Kurikulum 2013 dimulai tahun ini. Kurikulum baru yang diluncurkan oleh Mendikbud hari Senin tanggal 15 Juli 2013 di SMAN 1 Bantul, Yogyakarta, ini diterapkan secara bertahap di 6500 sekolah (SD, SMP, dan SMA/SMK) untuk tiga mata pelajaran: Matematika, Sejarah Indonesia, dan Bahasa Indonesia. Peristiwa ini menandai perubahan yang menurut Mendikbud sangat dibutuhkan untuk kemajuan bangsa Indonesia. Kurikulum baru ini diharapkan mendorong siswa agar mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengomunikasikan (mempresentasikan) apa yang di­per­oleh atau diketahui setelah menerima materi pembelajaran.[3]

Banyak orang meragukan, skeptis, dan bahkan tidak yakin bahwa kurikulum baru ini akan dapat diimplementasikan dengan baik/tepat di sekolah. Mulai dari pihak yang selalu menolak apapun yang diperbuat oleh Kemendikbud sampai pada para ilmuwan, praktisi, dan politisi juga menyuarakan keraguan itu. Mulai dari konsep kurikulum itu sendiri yang dianggap kurang tepat sampai pada kesiapan guru dan pengadaan buku yang dianggap bermasalah. Memang, isyu pendidikan palaing hangat dua tahun terakhir ini adalah tentang Kurikulm 2013.

Kurikulum itu hanyalah kendaraan. Kendaraan akan berfungsi dengan baik apabila diawaki oleh sopir yang baik pula. Sebagus apapun kendaraan, apabila sopirnya kurang terampil maka mobil bagus itu bisa kurang berfungsi, bahkan bisa membahayakan. Selain awak kendaran yang bagus, diperlukan bahan bakar yang berkualitas pula. Apabila mobil Mercedes diberi minyak tanah atau solar dapat dibayangkan betapa mobil itu akan batuk-batuk, meskipun sopirnya pandai menyetir. Jadi, aspek, “orang” dan “materi ajar” harus menjadi perhatian utama, yang dalam konteks implementasi kurikulum adalah guru dan buku teks pelajaran.

Ternyata dua hal inilah yang menjadi kepedulian dan alasan kritik terhadap implementasi Kurikulum 2013. Sekarang, kurikulum itu telah digunakan (diimplementasikan), tidak perlu ada lagi perdebatan perlu tidaknya kurikulum itu. Ke depan, hal yang perlu dipikirkan adalah bagaimana meningkatkan kompetensi guru secara berkelanjutan dan mengupayakan tersedianya buku yang berkualitas. Bahkan Mendikbud mengatakan bahwa dua syarat utama untuk diizinkan melaksanakan Kurikulum 2013 adalah penyiapan guru dan ketersediaan buku (Kompas, 02/09/2013). Seain itu, karakteristik kurikulum Bahasa Indonesia yang berbasis teks/genre dan aspek penilaian otentik juga perlu menjadi perhatian dalam implementasinya.

B.  Implementasi Kurikulum 2013 Bahasa Indonesia

1.  Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia

Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia (Permen No. 68,69, dan 70 Tahun 2013).[4] Di dalam Permen itu tidak dinyatakan secara tegas tujuan setiap mata pelajaran, tetapi tujuan dapat dilihat pada Kompetensi Inti (KI) dan Kompetnsi Dasar (KD).

Disamping itu, tujuan mata pelajaran adalah bagian dari tujuan penyelenggaraan pendidikan. Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan dinyatakan bahwa penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah bertujuan untuk membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: (a) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; (b) berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; (c) sehat, mandiri, dan percaya diri; (d) toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab.

Pada dasarnya, tujuan pembelajaran bahasa adalah membimbing perkembangan bahasa siswa secara berkelanjutan melalui proses mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada akhirnya, tujuan itu adalah untuk membimbing siswa agar mampu menggunakan bahasa untuk belajar, mengekspresikan ide dengan lancar dan jelas, dan berkomunikasi secara efektif dengan orang lain (belajar menggunakan bahasa, belajar tentang bahasa, dan belajar melalui bahasa).

Dikaitkan dengan mata pelajaran BSI, tujuannya tentulah (a) menggunakan bahasa Indonesia sebagai perwujudan iman kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; (b) menguasai bahasa Indonesia sebagai perwujudan manusia yang berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; (c) menggunakan bahasa Indonesia sebagai perwujudan manusia yang sehat, mandiri, dan percaya diri; (d) menggunakan bahasa Indonesia sebagai perwujudan sikap toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. Di dalam Kurikulum 2013, keempat tujuan penyelenggaraan pendidikan di atas diterjemahkan ke dalam KI dan KD. KI berisi tentang Ketuhanan, Karakter, Kemampun, dan Keterampilan. KD berisi sejumlah kompetensi yang menghendaki agar siswa mampu melakukan kegiatan.

Di dalam mata pelajaran BSI, teks menjadi materi utama. Beragam jenis teks dinyatakan di dalam Kurikulum 2013 untuk dipelajari.[5] Sementara itu, sejumlah kata kunci (operasional) digunakan untuk membelajarkan berbagai jenis teks itu.[6] Jadi, kurikulum ini memang bertumpu pada teks sehingga dapat disebut Kurikulum Berbasis Teks (text-based curriculum) sehingga dalam pelaksanaannya disebut pembelajaran berbasis teks (text-based teaching and learning), biasa juga disebut pembelajaran berbasis genre (genre-based teaching and learning).

Memang ada diskusi tentang kelebihan dan/atau kekurangan pembelajaran berbasis genre/teks? Sebagian pakar menganggap bahwa pembelajaran bisa “terperosok” lagi ke dalam “lubang” struktural karena dalam pelaksanaannya memang dikaji struktur generik teks-teks itu.[7] Namun, struktural bukanlah sesuatu yang jelek. Segala sesuatu hadir dengan strukturnya, walapun struktur itu tidak selalu terlihat jelas. Setiap teks mempunyai struktur dan struktur itu perlu dipelajari.[8]

2.  Perubahan Pola Pikir

Dilihat dari strukturnya, Kurikulum 2013 mata pelajaran BSI tidak banyak berbeda dari Kurikulum sebelumnya (2006), kecuali pada penyederhanaan KD dan kejelasan kompetensi dan teks yang dilatihkan. Kedua kurikulum ini sebenarnya adalah KBK. Dengan demikian, khusus untuk SMP dan SMA, tidak banyak yang perlu dilatihakan kepada guru untuk dapat mengimplementasikannya. Andaikan guru mampu mengimplementasikan Kurikulum sebelum ini, dengan sendirinya mereka akan mampu mengimplementasikan kurikulum baru ini. Hal-hal yang perlu dilatihkan barangkali hanyalah aspek teknis dalam kaitan membuat perangkat pembelajaran.

Namun, kenyataannya memang tidak demikian. Memang ada diskusi panjang lebar melalui media seperti dinyatakan di atas bahwa guru belum siap melaksanakan kurikulum ini. Menurut pengamat, hal ini bukan karena bentuk dan pola kurikulum itu yang baru sama sekali, tetapi karena sebagain besar guru belum menghayati hakikat KBK.[9] Aspek inilah yang perlu menjadi perhatian setiap guru, yaitu mengubah pola pikir (mindset) dari pembeajaran yang berpusat pada guru (teachers centered learning) ke pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning).

Pergeseran paradigma dari pembelajaran yang berpusat pada guru (TCL) ke pembelajaran yang berpusat pada siswa (SCL) membawa konsukuensi yang tidak sedikit. Konsekuensi itu berkaitan dengan kesiapan SDM, terutama mentalitas dan pengetahuan guru, ketersediaan alat dan sarana, serta dukungan sekolah secara umum. Perubahan ini sedikit banyak akan menimbulkan reaksi, bahkan geger budaya karena dalam waktu yang lama, TCL telah “mendarah daging” dalam dunia pendidikan sekolah, tidak hanya pada guru, tetapi juga pada siswa.

SCL, sebagaimana juga TCL, bukanlah sebuah metode, melainkan suatu paradigma dalam pelaksanaan pembelajaran. SCL merupakan pola pembelajaran yang mengiringi pemberlakuan Kurikikulum Berbasisk Kompetensi (KBK). Bahkan, paradigma seperti ini telah dengan nyata disebutkan dalam Kepmendiknas no 232/U/2000, tentang pemberlakuan KBK, yaitu bahwa pembelajaran dilaksanakan dengan SCL, terutama inquiry dan discovary.

Dengan TCL, guru menyampaikan materi pelajaran secara searah saja. Peran aktif siswa terbatas; guru adalah sumber ilmu yang sudah jadi, sedangkan siswa tinggal menerima dan menghafal ilmu yang sudah jadi tersebut. Kalaupun ada, keterlibatan siswa hanya dalam bentuk tanya jawab dan melaksanakan tugas-tugas.

Perhatikanlah RPP guru, Anda akan melihat betapa besarnya peran guru. Pada kolom metode hampir selalu ada metode tanya jawab dan penugasan. Hal itu berarti bahwa guru berceramah terlebih dahulu, diiringi dengan tanya jawab, lalu siswa melaksanakan tugas-tugas/latihan. Kalaupun ada metode lain yang didaftarkan seperti inkuiri, demonstrasi, atau pemodelan, semuanya hanya pajangan dan kurang nyata terlihat dalam skenario pembelajaran, apalagi dalam aplikasinya di kelas.

Dengan SCL, guru mengubah perannya dari penyedia dan penyampai ilmu menjadi fasilitator dan motivator. Peran yang lebih besar diberikan pada siswa, yaitu sebagai pencari ilmu. Guru hanyalah penyedia fasilitas, pemberi arahan, membantu proses eksplorasi, elaborasi, dan akhirnya pemberi konfirmasi. Peran seperti itu menghendaki kreativitas guru dan fasilitas sekolah. Inilah konsekuensi yang dimaksud di atas karena untuk melaksanakan SCL (apa yang di dalam tema seminar ini disebut empowering = pemberdayaan) dengan baik diperlukan kekayaan pengetahuan, keterampilan mengajar, fasilitas, sumber belajar, dan teknologi pembelajaran yang memadai.

Aspek kedua dari pola pikir yang perlu diperbaharui adalah sikap sebagai seorang guru, yaitu kemaun berubah dan berbenah. Pembelajaran yang efektif berasal dari orkestrasi keahlian, keilmiahan, magis/sihir, dan seni (McKenzie, 2004). Di samping menguasai bidang studi dan pembelajaran yang ilmiah, guru juga harus mampu menyihir siswanya dengan seni mengajar yang menyenangkan. Tersenyum dan menumbuhkan kegembiraan dalam belajar adalah “sihir” yang perlu dipelajari guru. Pembelajaran yang efektif ditandai oleh dua hal: siswa aktif, siswa senang.

Belajar tidak sama dengan menonton olahraga. Siswa tidak belajar banyak hanya dengan duduk di kelas mendengarkan guru, menghafal tugas yang sudah dikemas, dan menyemburkan jawaban. Mereka harus berbicara dan menulis tentang apa yang mereka pelajari, mengaitkannya dengan pengalaman masa lalu, dan menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Mereka harus membuat apa yang mereka pelajari menjadi bagian dari diri mereka sendiri. (Chickering & Gamson, 1987)

Dengan demikian (SCL), tuntutan Kurikulum 2013 adalah juga pembelajaran aktif, yaitu pembelajaran yang menggerakkan siswa secara mental dan fisik untuk melakukan sesuatu ketimbang duduk pasif mendengarkan ceramah guru. Teknik ini digunakan untuk membantu siswa memperoleh pengetahuan, mengembangkan keterampiln berpikir kritis, memecahkan masalah dalam berbagai situasi dan berpikir secara mandiri.

Active Learning Credo:

Lebih dari 2400 tahun yang lalu, Confucius berkata:

What I hear, I forget. What I see, I remember. What I do, I understand.

 Mel Silberman: “Active Learning Credo”:

What I hear, I forget. What I hear and see, I remember a little. What I hear, see, and ask questions about or discuss with someone else, I begin to understand. What I hear, see, discuss, and do, I acquire knowledge and skill. What I teach to another, I master.

 

Belajar aktif adalah sebuah istilah payung terhadap sejumlah model pembelajaran yang terfokus pada pemberian tanggung jawab belajar pada siswa. Istilah payung yang dipopulerkan oleh Bonwell and Eison (1991) ini bermula dari anggapan Jerome Bruner (1960) bahwa siswa yang telibat aktif lebih mungkin menjelaskan kembali informasi yang diperolehnya. Metafora guci yang terisi dan lampu yang menyala sangat tepat untuk membedakan belajar pasif dan belajar aktif. Tugas guru bukanlah mengisi guci (siswa) yang kosong, tetapi menyalakan semangat belajarnya.

3.   Pendekatan Ilmiah

Kurikulum 2013 menganjurkan agar digunakan pendekatan ilmiah dalam proses pembelajaran. Dengan pendekatan ini, diharapkan hasil pembelajaran lebih melekat pada pikiran siswa karena mereka melakukannya dengan prosedur berbasis fakta. Meskipun bukan satu-satunya pendekatan terbaik dalam pembelajaran bahasa, tetapi dapat diyakini bahwa pendekatan ilmiah dapat membawa sukses karena dilakukan dengan sistematis seperti para ilmuwan menecari tahu.

Sebagaimana prosedur yang dilakukan dalam penelitian ilmiah, pembelajran berbasis pendekatan ilmiah dilakukan dalam beberapa tahap, mulai dari mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, sampai pada mencipta. (ini yang disarankan dalam Kurikulm 2013). Namun pendekatan ilmiah bisa beragam dalam istilah. Salah satu skema lain adalah: menumbuhkan rasa ingin tahu, mendorong observasi, mendorong analisis, dan komunikasi.

Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran merupakan cara untuk membimbing siswa dalam proses transformasi objek konkret dan artefak yang terdapat di dunia sekitar mereka ke dalam konsep-konsep abstrak yang menghuni pikiran manusia. Setiap langkah dalam proses sangat penting. Tanpa rasa ingin tahu, siswa tidak akan memiliki keinginan untuk “melanjutkan perjalanan”. Jika siswa gagal melakukan pengamatan secara konkret, mereka akan hilang di medan yang tidak mereka kenali.

Komponen penting pendekatan ilmiah dalam pembeajaran adalah (1) menumbuhkan rasa ingin tahu (rasa takjub), (2) mendorong observasi, (3) mendorong analisis, dan (4) mendorong komunikasi (McCollum, 2009). Semua ilmu pengetahuan, semua pengetahuan dan pemahaman yang benar dimulai dengan rasa takjub, rasa ingin tahu yang kuat tentang “mengapa” dan “bagaimana”. Pertanyaan dalam kelas tidak cukup hanya berfokus pada “apa, siapa, kapan, dan di mana”  untuk sekadar menghafal. Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran haruslah mendorong peserta didik untuk bertanya-tanya tentang “mengapa” (alasan) dan “bagaimana” (proses).

Rasa takjub didasarkan atas kesadaran yang tajam terhadap lingkungan seseorang. Pengetahuan ilmiah didasarkan atas data empiris, data yang dikumpulkan dari pengalaman dan pengamatan (observasi). Oleh sebab itu, siswa perlu didorong untuk membiasakan diri dengan detail dan menggunakan indera penglihatan, pendengaran, sentuhan, rasa, dan bau. Siswa perlu ditantang untuk mencatat rincian ini secara kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran memberikan banyak kesempatan untuk menggunakan indera siswa dan mencatat pengamatan mereka.

Rasa takjub (ingin tahu) tumbuh bersamaan dengan pemahaman dan pemahaman berasal dari analisis, baik kuantitatif maupun kualitatif bergantung pada data yang terkumpul. Analisis kuantitatif sangat berguna dalam ilmu-ilmu sosial, ekonomi, psikologi, sosiologi, dan lain-lain. Analisis kualitatif memiliki tempat dalam ilmu-ilmu sosial, dan sangat penting dalam seni dan sastra. Siswa perlu didorong untuk membuat klasifikasi, menghubungkan, dan menghitung sehingga menemukan pola dalam bentuk apapun yang mungkin mereka hasilkan. Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran mendorong siswa untuk mencari pola.

Seperti kebanyakan hal dalam hidup, rasa ingin tahu lebih dihargai ketika bersama. Bahasa memberi kita sarana berkomunikasi, walupun ada sarana lain untuk berekspresi. Siswa perlu didorong untuk mengomunikasikan dan menjelaskan kepada rekan mereka atau dalam bentuk yang lebih luas melalui media atas apa yang telah mereka temukan (analisis) dan polakan. Pendekatan ilmiah menghendaki agar siswa mengomunikasikan hasil belajar mereka.

Keterampilan analisis memungkinkan siswa untuk memetakan arah masa depan untuk belajar secara mandiri, sedangkan kekuatan komunikasi yang jelas dan ekspresi kreatif akan membuat siswa belajar mengaitkan dirinya dengan seluruh umat manusia.

Dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia yang berfokus pada keterampilan berbahasa, pendekatan ilmiah mengharuskan siswa untuk menghasilkan teks, setelah mereka mengamati, menanya/menalar, menganalisis.

4.  Pembelajaran Berbasis Teks/Genre

Pendekatan berbasis genre adalah proses pembelajaran yang berfokus pada pemahaman dan produksi genre teks tertentu. Pendekatan ini telah menjadi trend utama dalam pembelajaran bahasa Inggris (ELT) pada milenium baru ini (Rodgers, 2001). Pendekatan ini telah dikemukakab oleh Rodgers (2001) sebagai tren utama dalam pengajaran bahasa Inggris (ELT) di milenium baru.

Ada beragam pengertian tentang genre terkait dengan pembelajaran bahasa. The Routledge Encyclopedia of Language Teaching and Learning mendefinisikan pendekatan genre sebagai “kerangka kerja untuk pengajaran bahasa berdasarkan contoh genre tertentu” (Byram, 2004). Swales (1990:45—46)) mendefinisikan genre sebagai “A class of communicative events (p.45), The principal criteria1 feature that turns a collection of communicative events into a genre is some shared set of communicative purposes. (p.46).” Swales  ingin mengatakan bahwa genre adalah peristiwa komunkasi yang menunjukkan penggunaan bahasa dengan karakteristik tertentu. Karakteristik bahasa itu menentukan keberhasilan komunikasi. Genre adalah juga perbedaan berbagai jenis struktur skematik teks yang membantu untuk mencapai tujuan teks itu (Derewianka, 1992). Jadi, dapat disimpulkan bahwa genre adalah jenis-jenis teks (lisan atau tulis) yang masing-masingnya mempunyai struktur generik (juga skematik) yang, jika ingin memproduksi teks itu, seseorang harus mengikuti struktur yang telah ditetapkan.

Siapa yang menetapkan struktur itu? Sebagaimana bahasa pada umumnya, struktur teks juga ditetapkan oleh konvensi masyarakat pemakainya. Ada konvensi atau aturan tertentu yang umumnya terkait dengan tujuan produksi teks. Misalnya, teks surat-surat resmi memberitahu pembaca tentang pekerjaan kantor, tidak mungkin cerita tentang pribadi penulisnya; teks puisi memberitahu pembaca tentang pengalaman estetis penyair; dan teks berita memberitahu pembaca tentang sesuatu (5W1H) yang perlu diketahui bersama. Setiap jenis teks itu menggunakan konvensi berkaitan dengan tujuan komunikasi dan konvensi itu sekaligus memberi struktur pada teks itu. Oleh sebab itu, pembelajaran bahasa (Indonesia) berbasis genre terfokus pada kegiatan-kegiatan memahami, menelaah, memproduksi, dan merevisi berbagai teks sesuai dengan konvensi/strukturnya. Setiap teks dimaksudkan untuk mengungkapkan maksud tertentu sehingga diperlukan cara tertentu pula.

Teori genre dalam pembelajaran bahasa dikembangkan berdasarkan pemerolehan bahasa anak dalam model fungsional sistematis yang menunjukkan bagaimana anak-anak belajar bahasa dan bagaimana mereka mengembangkan teks. Dalam kehidupan sehari-hari, orang dewasa selalu memodelkan genre tertentu dalam wacana mereka dengan anak-anak. Berdasarkan model itu, guru perlu menemukan model dan strategi yang telah diakrabi siswa ketika mereka mempelajari bahasa. Tahap belajar bahasa dengan pendekatan genre ini hendaknya, sekurang-kurangnya, mencakup tiga tahap: pemodelan, konstruksi bersama, dan konstruksi mandiri. Pertama-tama guru menampilkan model teks yang akan dibuat, lalu menganalisisnya bersama siswa. Setelah siswa mulai memahami karakteristik/skematik teks itu, guru dan siswa bersama-sama membuat teks yang dipelajari itu. Kemudian, setelah mendiskusikan teks yang dibuat bersama, siswa diminta membuat teks secara mandiri. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Indonesia menjadi kreatif dan produktif.

Kalau begitu, teori genre, sebenarnya, adalah teori penggunaan bahasa juga.[10] Artinya, kurikulm baru ini tidaklah baru sama sekali karena ancangan ke arah pendekatan genre ini sudah mulai ada pada kurikulum sebelumnya. Sebagaimana kita ketahui, Standar Isi (2006) untuk bahasa dan sastra Indonesia hanya berisi keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis) dan itu berarti terfokus pada penggunaan bahasa, bukan pada teori bahasa.

Selain itu, pendekatan berbasis teks sejalan dengan pendekatan ilmiah yang disarankan di atas. Untuk sampai pada tahap produksi teks, siswa perlu dilatih terlebih dahulu untuk mengamati teks contoh, mengobservasi, menganalisis, dan kemudian mencoba membuat dan mengomunikasikan.

Contoh aktivitas kelas mempelajari teks narasi (cerita):

Rasa ingin tahu : Mengapa teks ini disebut narasi, apa karakteristiknya? Bagaimana strutur dan proses mengembangkannya?

Observasi        : Siswa membaca contoh teks narasi dan berdiskusi dengan temannya untuk menemukan karakteristiknya. Agar dapat membedakannya dengan jenis teks lain, siswa juga diminta membandingkannya dengan teks deskripsi

Analisis            : Secara sendiri atau berkelompok, siswa menganalisis contoh teks narasi agar benar-benar memahami. Analisis dapat dilakukan dengan cara menemukan struktur teks: menemukan peristiwa, pelaku, dan setting peristiwa.

Komunikasi     : setelah menemukan jawaban terhadap semua pertanyaan (rasa ingin tahu), siswa mengomunikasikan temuannya kepada teman-teman kelas.

Mencipta         : dimulai dari penciptaan teks narasi secara bersama-sama dengan guru, kemudian siswa diminta menciptakan sendiri teks narasi.

5.  Penilaian Otentik/Alternatif

Asesmen alternatif merupakan istilah payung (nama generik) untuk melabeli sejumlah asesmen selain asesmen tradisional.  Ke dalam istilah ini tercakup istilah asesmen langsung, asesmen kinerja, asesmen otentik, dan asesmen deskriptif (Hamayan, 1995). Sementara itu, Muller (2012) justru menggunakan istilah payung “asesmen otentik” untuk melabeli sejumlah istilah yang yang mencakup penilaian alternatif, penilaian kinerja, dan penilaian langsung. Dengan istilah lain, Brown (2004:251) menyebutnya sebagai beyond test

Dalam asesmen tradisional, penilaian dilakukan untuk meminta jawaban yang benar, meskipun tidak berkaitan dengan kehidupan nyata siswa dan asesmen terpisah dari pembelajaran (tes selalu dilakukan setelah belajar). Meskipun dapat diskor dengan tingkat reliabilitas yang tinggi, asesmen tradisional lebih banyak mengukur tingkat pengetahuan dan pemahaman, kurang pada aspek keterampilan. Sementara itu, dalam asesmen alternatif, penilaian dilakukan untuk menilai kinerja dan karya siswa dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Meskipun sulit diskor dengan tingkat reliabilitas yang tinggi, asesmen alternatif lebih dekat dengan kenyataan sehari-hari karena yang diutamakan adalah bukti kinerja (Wiggins, 1998).

Hasil asesmen alternatif lebih dekat hubungannya dengan realitas berbahasa atau komunikasi: siswa langsung menggunakan bahasa sebagaimana terjadi dalam kehidupan sehari-hari (situasi otentik). Oleh sebab itu, asesmen alternatif lebih holistik. Dengan menggunakan asesmen alternatif, guru semakin memperhatikan hubungan antarunsur bahasa, yaitu fonologi, tata bahasa, dan kosa kata. Jika menggunakan asesmen alternatif, pembelajaran terlihat lebih terpadu dengan penilaian dan guru lebih mungkin untuk mengukur kemahiran berbahasa siswa dalam subjek tertentu. Selain itu, asesmen alternatif dapat menyeimbangkan perkembangan siswa dari segi kognitif, sosial, dan akademik. Bentuk ini memadai untuk menyesuaikan tes dengan kebutuhan dan level siswa sehingga guru dapat mengetahui bagaimana perkembangan bahasa siswa secara lebih akurat dalam kehidupan sehari-hari. Keunggulan lainnya, asesmen alternatif memungkinkan guru untuk melakukan penilaian dengan acuan ganda ‘multiple referencing’ (Hamayan, 1995).

Pada dasarnya ada dua jenis asesmen alternatif, yaitu yang terstruktur dan yang takterstruktur. Asesmen alternatif yang terstruktur dirancang untuk mendapatkan hasil yang lebih jelas, yang dapat dikategorikan “lengkap” atau “tidak lengkap”. Asesmen alternatif yang takterstruktur terbatas pada kreativitas guru dan siswa, yaitu segala macam aktivitas yang dapat dilakukan dalam dunia sekolah. Selain itu, teknik asesmen alternatif juga dapat dibedakan berdasarkan fokusnya, yaitu proses atau produk. Asesmen yang berorientasi proses menunjukkan bagaimana siswa memproses informasi dan asesmen yang berorientasi produk terfokus pada hasil perilaku, tugas, atau aktivitas. Namun demikian kedua kategori itu tidak jelas benar bedanya. Sebuah teknik asesmen bisa lebih atau kurang terstruktur bergantung pada caranya disusun dan konteks ketika digunakan. Informasi tentang keduanya dapat diambil dari asesmen yang sama bergantung pada fokus asesmen yang dilaksanakan.

Wiggins (1998) mengidentifikasi beberapa bentuk asesmen otentik (alternatif) yang dapat digunakan dalam penilaian ketrampilan berbahasa, antara lain portofolio, kinerja, penilaian sendiri, dan menulis jurnal proyek. Sementra itu, dalam pembelajaran bahasa, Brown (2004:254) mengidentifikasi enam jenis asesmen alternatif, yaitu: asesmen berbasis kinerja, portofolio, jurnal, konferensi/wawancara, observasi/pengamatan, dan asesmen sendiri dan kelompok (self/peer).

Asesmen alternatif memerlukan standar dalam penyekorannya sehingga diperlukan semacam skema yang disebut rubrik. Rubrik adalah skala skor yang digunakan untuk menilai kinerja siswa pada tugas tertentu berdasarkan seperangkat kriteria (Muller, 2012; Mertler, 2001). Penilaian alternatif biasanya beracuan kriteria, yaitu, kemampuan siswa ditentukan dengan pencocokan kinerjanya dengan seperangkat kriteria untuk menentukan derajat kinerja yang memenuhi kriteria untuk tugas itu. Untuk mengukur prestasi siswa terhadap kriteria yang ditentukan sebelumnya, rubrik berisikan kriteria penting untuk tugas itu dan tingkat kinerja yang sesuai untuk kriteria masing-masing.

C.  Simpulan

Agar sukses, implementasi Kurikulum 2013 memerlukan beberapa sayarat di samping mengubah pola pikir dari TCL ke SCL, guru juga perlu menjadi seorng “penyihir” dengan senyumnya sehingga siswa senang dan aktif belajar. Agar pebelajaran bahasa Indonesia benar-benar terarah pada kemampuan berbahasa, pola belajar aktif dan pendekatan ilmiah perlu dijadikan pijakan karena materi teks/genre menghendaki agar pembelajaran bahasa tidak hanya mengenal teks tetapi juga menghasilkan teks. Pada akhirnya, untuk mengetahui bahwa tujuan telah tercapai, pendekatan penilaian alternatif mutlak diperlukan.

D.  Daftar Pustaka

Assessment Reform Group, UK . 2002. “What is Assessment for Learning?” Diambil tangal 10 Maret 2013 dari: http://www.assessmentforlearning.edu.au/professional_learning/modules/intro_to_afl/introduction_key_questions.html

Atmazaki 2013. “Reposisi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Menyongsong Kurikulum 2013” (Makalah pada Seminar Nasional Pengajaran bahasa dalam Rangka Mubes Ilunibind tanggal 25-26 Mei 2013 di FBS UNP).

Atmazaki. 2013. “Pembelajaran Aktif sebagai Wahana Pengembangan Karakter Siswa” (Makalah disajikan dalam Seminar bertema “Pembeljaran Aktif Membentuk Insan yang Berkarakter sesuai dengan Nilai-nilai Pancasila” yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidi Bahasa dan Sastra FKIP Universitas Asahan di Kisaran, tanggal 8 Juni 2013).

Bonwell and Eison. 1991. “Active Learning: Creating Excitement in the Classroom”, diambil tanggal 1 Mei 2013 dari: http://www.ydae.purdue.edu/lct/hbcu/documents/Active_Learning_Creating_Excitement_in_the_Classroom.pdf

Borg, Walter R. 1983. Educational Reseach and Intoduction. New York: Longmann.

Brown, H. Dooglas. 2004. Language Assessment: Principles and Classroom Practices. New York: Longman.

Byram, M. 2004. “Genre and Genre-based Teaching.” The Routledge Encyclopedia of Language Teaching and Learning (pp. 234237). London: Routledge.

Chickering, A. W. & Gamson, Z. F. 1987. Seven Principles for Good Practice in Undergraduate Education. The Wingspread Journal, 9(2).

Derewianka, Beverly. 1992. “Exploring How Texts Work”. Virginia: Primary English Teaching Association.

Hamayan, Else V. 1995. “Approach to Alternative Assessment”. Annual Review of Applied Linguistic; 15-212-226. Cambridge: Cambridge University Press

McCollum, Kimberly. 2009. “A Scientific Approach to Teaching”, diambil tanggal 1 September 2013 dari: http://kamccollum.wordpress.com/2009/08/01/a-scientific-approach-to-teaching/

McKenzie, Jamie. 2004. Quality Teaching From Theory into Practice. In The Question Mark. Vol 1|No 2|September|2004. Diambil tanggal 5 Oktober 2012 dari: http://questioning.org/html

Mertler, Craig A. 2001. “Designing Scoring Rubrics For Your Classromm.” Dalam Practical Assessment: Research and Evaluation, No 7 (25) diambil tanggal 4 Mei 2009 dari: http//:PAREonline.net/getvn.asp?v=7@n=25

Muller, Jonahan. 2012. “What is Authentic Assessment?.” Diambil tanggl 10 Maret 2012 dari: http://jfmueller.faculty.noctrl.edu/toolbox/whatisit.htm#names

Swales, J. M. 1990. Genre Analysis: English in Academic and Research Settings. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Wiggins, G. 1994. “Toward more authentic assessment of language performances.” Dalam Hancock, C. R. (Ed.), Teaching, Testing, and Assessment: Making the connection. Northeast conference reports. Lincolnwood, IL: National Textbook Co.

 

 

[1] Makalah ini disajikan dalam Internasional Seminar Language and Arts, bertajuk Empowering Theories and Pedagogical Application of Languages ​​and Arts, diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, bertempat di Hotel Pangeran Beach, 5—6 Oktober 2013.

[2] Guru Besar Pendidikan Bahasa Indonesia, FBS, UNP Padang

[3] http://setkab.go.id/berita-9481-hari-ini-kurikulum-2013-mulai-dilaksanakan.html

[4] Ketiga Permen itu adalah tentang Struktur Kurikulum 2013 tingkat SMP, SMA, dan SMK.

[5] Untuk Tingkat SMP: (1) hasil observasi, (2) tanggapan deskriptif, (3) eksposisi, (4) eksplanasi, dan (5) cerita pendek; (6) cerita moral/fabel, (7) ulasan, (8) diskusi, (9) cerita prosedur, dan (10) cerita biografi; (11) eksemplum, (12) tanggapan kritis, (13) tantangan, dan (14) rekaman percobaan. Untuk Tingkat SMA: (15) anekdot, (16) laporan hasil observasi, (17) prosedur kompleks, dan (18) negosiasi; (19) cerita pendek, (20) pantun, (21) cerita ulang, (22) eksplanasi kompleks, dan (23) film/drama; (24) teks cerita sejarah, (25) berita, (26) iklan, (27) editorial/opini, dan (28) novel.

[6] Untuk tingkat SMP: (1) memahami, (2) membedakan, (3) mengklasifikasi, (4) mengidentifikasi kekurangan, (5) menangkap makna, (6) menyusun, (7) menelaah dan merevisi, dan (8) meringkas. Untuk SMA: memahami, (9) membandingkan, (10) menganalisis, (11) mengevaluasi, (12) menginterpretasi makna, (13) memproduksi, (14) menyunting, (15) mengabstraksi, dan (16) mengonversi.

[7] Bambang Kaswanti Purwo, 2013, “Kurikulum Bahasa Indonesia” (Kompas, 20 Maret 2013), http://edukasi.kompas.com/read/2013/03/20/02143382/.Kurikulum.Bahasa.Indonesia.

[8] Maryanto, 2013. “Kurikulum Struktur Teks” (Kompas, 3 April 2013), http://edukasi.kompas.com/read/2013/04/03/02291869/Kurikulum.Struktur.Teks.

[9] Kelihatannya bukan hanya guru, sebagian dosen, bahkan pembuat kurikulum sendiri kesulitan memahami KBK. Baru tiga tahun terakhir sosok KBK itu menjadi lebih jelas walaupun sudah sejak tahun 2000 mulai diungkapkan.

[10] Sebenarnya, Kurikulum 2006 (Standar Isi) sudah menampakkan pendekatan genre, tetapi kurang konkrit dalam menentukan jenis teks yang akan dibelajarkan.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CALENDAR

December 2017
M T W T F S S
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

ARTIKEL

Archives